PEMBELAJARAN TEMATIK INTEGRATIF
Dalam sejarah
pengembangannya di era 70an, pembelajaran tematik integratif /terintegrasi
(integrated thematic instruction, ITI) dimaksudkan untuk anak-anak berbakat dan
bertalenta (gifted and talented), cerdas, pada
program perluasan belajar, dan yang belajar cepat. Tetapi kini, dalam
mengimplementasikan Kurikulum 2013 di SD kelas rendah, pembelajaran tematik
integratif (terpadu) ini juga digunakan.
A.
Beberapa Kelebihan
Pembelajaran Tematik Integratif
·
Premis utama PTP bahwa peserta didik memerlukan peluang
tambahan (additional opportunities) untuk menggunakan talentanya.
·
Pembelajaran tematik terpadu dapat memberikan waktu bersama
yang lain untuk secara cepat mengkonseptualisasi dan mensintesis.
·
Pembelajaran tematik terpadu relevan untuk mengakomodasi
kualitatif lingkungan belajar.
·
Pembelajaran tematik terpadu
akan dapat menginspirasi peserta didik untuk memperoleh pengalaman
belajar.
·
Pembelajaran tematik terpadu memiliki perbedaan kualitatif
(qualitatively different) dengan model pembelajaran lain, karena sifatnya
memandu peserta didik mencapai kemampuan berpikir tingkat tinggi (higher levels
of thinking) atau keterampilan berpikir dengan mengoptimasi kecerdasan ganda
(multiple thinking skills), sebuah proses inovatif bagi pengembangan dimensi
sikap, keterampilan dan pengetahuan.
B.
Tahap Pembelajaran Tematik
Terpadu
Adapun tahap-tahap
pembelajaran tematik terpadu adalah sebagai berikut:
Ø Tahap 1.
Menentukan tema. Dalam
pembelajaran tematik terpadu sangat dimungkinkan untuk melakukan kesepakatan
bersama antara guru dengan peserta didik untuk menentukan tema yang diminati.
Ø Tahap 2.
Mengintegrasikan tema
dengan kurikulum yang berlaku. Pembelajaran tematik terpadu di kelas rendah SD
harus mengedepankan dimensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan sesuai dengan
tema yang dimuat dalam Kurikulum yang berlaku (Kurikulum 2013).
Ø Tahap 3.
Mendesain rencana
pembelajaran. Pada tahapan ini tercakup pengorganisasian sumber dan aktivitas
ekstrakurikuler dalam rangka mendemonstrasikan kegiatan dalam tema yang
dilakukan oleh guru.
Ø Tahap 4.
Aktivitas kelompok dan
diskusi. Dalam tahapan terakhir ini, guru dapat memberikan kesempatan dan
peluang bagi siswa untuk ikut berpartisipasi. Dengan demikian, akan tercapai
berbagi persepektif dari tema. Hal ini membangun guru dan peserta didik dalam
mengeksplorasi subjek (tema).
C.
Model Pembelajaran Tematik
Integratif
Salah satu
model pembelajaran tematik integratif (terpadu) yang disarankan untuk peserta
didik di kelas rendah SD adalah model jaring laba-laba (webbed model). Model
terpadu ini berangkat dari pendekatan tematis sebagai acuan dasar bahan dan
kegiatan pembelajaran. Tema yang dibuat dapat mengikat kegiatan pembelajaran, baik dalam mata pelajaran
tertentu maupun antarmata pelajaran. Pembelajaran tematik terpadu merupakan
pendekatan pembelajaran yang mengintegrasikan berbagai kompetensi dari berbagai
mata pelajaran ke dalam berbagai tema. Pengintegrasian tersebut dilakukan dalam
dua hal, yaitu integrasi sikap, keterampilan dan pengetahuan dalam proses pembelajaran
dan integrasi berbagai konsep dasar yang berkaitan. Tema merajut makna berbagai
konsep dasar sehingga peserta didik tidak belajar konsep dasar secara parsial.
Dengan demikian pembelajarannya memberikan makna yang utuh kepada peserta didik
seperti tercermin pada berbagai tema yang tersedia. Dalam pembelajaran tematik
terpadu, tema yang dipilih berkenaan dengan alam dan kehidupan manusia. Konsep model pembelajaran tematik yang
dipelajari di Indonesia adalah konsep pembelajaran terpadu yang dikembangkan
oleh Fogarty (1990).
D.
Model pembelajaran tematik
yang digunakan pada kurikulum di Indonesia
- Model
Hubungan/terkait (connected model)
Pada model
pembelajaran ini ciri utamanya adalah adanya upaya untuk menghubungkan beberapa
materi (bahan kajian) ke dalam satu disiplin ilmu. Sebuah model penyajian yang
menghubungkan materi satu dengan materi yang lain. Menghubungkan
tugas/keterampilan yang satu dengan tugas/ketrampilan yang lain. Keunggulan
model ini, peserta didik memperoleh gambaran yang menyeluruh tentang sebuah
konsep, sehingga transfer pengetahuan lebih mudah dilakukan karena konsep pokok
dikembangkan secara terus menerus.
- Model Jaring
laba-laba (webbed model)
Model
pembelajaran ini diawali dengan pemilihan tema. Setelah tema ditentukan
dilanjutkan dengan pemilihan sub-sub tema dengan memperhatikan keterkaitannya
antar mata pelajaran. Aktivitas belajar siswa direncanakan berdasarkan sub-sub
tema yang sudah ditentukan. Keuntungan model pembelajaran ini bagi peserta
didik adalah diperolehnya pandangan secara utuh tentang kegiatan dari ilmu yang
berbeda-beda.
- Model Terpadu
(integrated model)
Model
pembelajaran ini menggunakan pendekatan antar mata pelajaran yang dipadukan.
Beberapa mata pelajaran dicari konsep, sikap, dan ketrampilan yang tumpang tindih
dipadukan menjadi satu. Kegiatan guru pertama menyeleksi konsep, nilai-nilai
dan ketrampilan yang memiliki keterkaitan erat satu sama lain dari berbagai
mata pelajaran. Keuntungan model pembelajaran ini bagi peserta didik adalah
lebih mudah mengaitkan materi pembelajaran dari berbagai mata pelajaran. Model
inilah yang dikembangkan sebagai pembelajaran tematik terpadu di kurikulum
2013.
E.
Hakikat pembelajaran
tematik
Pembelajaran
tematik mengubah cara belajar dari menunggu diberitahu oleh guru menjadi mencari
tahu di bawah bimbingan guru. Pengorganisasian pembelajaran aktif akan
menciptakan pembelajaran aktif dan bermakna bagi siswa sehingga siswa
memperoleh pemahaman secara utuh dengan menggunakan pendekatan saintifik.
Keuntungan pembelajaran tematik bagi peserta didik antara lain: a). Lebih mudah
memusatkan perhatiannya pada sebuah tema; b). Dapat mempelajari berbagai
kompetensi dasar dalam sebuah tema; c). Pembelajaran lebih berkesan dan
mendalam; d). Kompetensi dasar dikaitkan dengan pengalaman peserta didik,
sehingga pembelajaran lebih bermakna; e). Lebih bermanfaat karena materi
berbasis tema yang jelas; f). Pembelajar an lebih menggairahkan karena peserta
didik mampu berkomunikasi dengan kehidupan nyata; dan g). Lebih efisien waktu,
karena melalui satu tema dapat dipelajari beberapa mata pelajaran sekaligus.
F.
Prinsip-prinsip
pembelajaran tematik
Prinsip dalam
penggalian tema: 1). Tema tidak terlalu luas sehingga mudah untuk memadukan
mata pelajaran; 2). Bermakna, sehingga bisa digunakan sebagai bekal bagi siswa
untuk belajar selanjutnya; 3). Sesuai dengan tingkat perkembangan siswa; 4).
Mampu menunjukkan sebagian besar minat siswa; 5). Mempertimbangkan peristiwa
otentik (riil); 6). Sesuai dengan kurikulum dan harapan masyarakat; 7).
Mempertimbang kan ketersediaan sumber belajar. Sedangkan prinsip dalam
pelaksanaan pembelajaran tematik adalah : 1). Guru tidak bersikap otoriter dan
berperan sebagai single actor yang mendominasi proses pembelajaran;
2).Pemberian tanggungjawab terhadap individu dan kelompok harus jelas dan
mempertimbangkan kerja sama kelompok; 3). Guru bersikap akomodatif terhadap
ide-ide yang muncul saat proses pembelajaran yang di luar perencanaan; 4).
Memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan evaluasi diri disamping
penilaian lain. Penilaian yang digunakan adalah penilaian otentik yang meliputi
lima domain yaitu: konsep, proses, aplikasi, kreativitas, dan sikap.
G.
Langkah-langkah penggunaan
pendekatan saintifik dalam pembelajaran tematik
- Invitasi/apersepsi
Pada tahap ini
guru melakukan brainstrorming dan menghasilkan kemungkinan topik untuk
penyelidikan. Topik dapat bersifat umum atau khusus, tetapi harus mampu
menimbulkan minat siswa dan memberikan wilayah yang cukup untuk penyelidikan.
- Eksplorasi
Pada tahap ini
siswa dibawah bimbingan guru mengidentifikasi topik penyelidikan. Pengumpulan
data dan informasi selengkap-lengkapnya tentang materi dapat dilakukan dengan
bertanya (wawancara), mengamati, membaca, mengidentifikasi, serta menganalisis
(menalar) dari sumber-sumber langsung (tokoh, obyek yang diamati) atau sumber
tidak langsung misalnya buku, koran, atau sumber informasi publik yang lain.
- Mengusulkan
penjelasan/solusi
Pada tahap ini
seluruh informasi, temuan, sintesa yang telah dikembang kan dalam proses
penyelidikan dibahas dengan teman secara berpasang an / dalam kelompok kecil.
Saling mengkomunikasikan hasil temuan, menguji hipotesis kemudian melaporkan /
menyajikannya di depan kelas untuk menggambarkan temuan setelah pembahasan.
- Mengambil tindakan
Berdasarkan
temuan yang dilaporkan, siswa menindaklanjuti dengan menyusun simpulan serta
penerapan dari temuan-temuannya. Untuk mengungkap pengetahuan dan penguasaan
siswa terhadap materi dapat dilakukan melalui evaluasi. Penilaian pembelajaran
tematik menggunakan 5 (lima) domain, yaitu 1) Konsep; 2) Proses; 3) Aplikasi;
4) Kreativitas dan 5) Sikap. Penilaian otentik sesuai diterapkan dalam
penilaian pembelajaran tematik integrative.
H.
Langkah-langkah
pengelolaan pembelajaran tematik terpadu.
Langkah-langkah
mengelola pembelajaran tematik integrative diawali dari menginventarisir tema
dan dipilih dari tema yang paling sederhana, dekat dengan lingkungan, sesuai
dengan usia dan perkembangan siswa. Setelah penetapan tema dibuatlah matrik
yang menggambarkan hubungan antar mata pelajaran, kompetensi dasar dan
indicator yang disatukan dalam sebuah tema. Kalender tematik dibuat setelah
matrik, kalender tematik berisi informasi tentang agenda (jadwal) pembelajaran
tematik. Setelah itu mempelajari silabus dan menyusun Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran sekaligus penilaiannya.
I.
Langkah-langkah
perencanaan pembelajaran tematik
- Menetapkan mata
pelajaran
Semua mata
pelajaran yang akan diajarkan diinventarisir. Mata pelajaran tersebut dipetakan
atas kompetensi inti dan kompetensi dasar.
- Menetapkan KD dan
indicator
Setelah
melakukan penetapan mata pelajaran dan memetakan KI dan KD maka guru perlu
untuk menterjemahkan kompetensi dasar (KD) ke dalam indikator. Indikator
merupakan alat ukur yang akan digunakan oleh guru dalam teknis pembelajaran.
- Menginventarisir tema
Beberapa mata
pelajaran, kompetensi inti, kompetensi dasar, dan indicator akan diikat dengan
tema. Tema merupakan media pemersatu agar penyajian pembelajaran bisa
terintegrasi. Tema sebaiknya tidak terlalu luas tetapi juga jangan terlalu
sempit. Tema yang terlalu luas bisa dijabarkan menjadi sub-sub tema atau anak
tema yang lebih spesifik. Sub tema tersebut kemudian dijabarkan dalam materi
pembelajaran seperti contoh dalam skema berikut:
- Pemetaan
Pemetaan mata
pelajaran, kompetensi inti, kompetensi dasar, dan indikator ke dalam tema
merupakan dasar penyusunan matrik. Pemetaan bisa dilakukan dengan menggunakan
format berikut:
- Menyusun matrik
Pada tahap ini
dilakukan pemetaan keterhubungan kompetensi dasar dari beberapa mata pelajaran
yang bisa disatukan dalam sebuah tema dalam bentuk matriks. Dengan jaringan
tema tersebut akan terlihat kaitan antara tema, kompetensi dasar dan indikator
dari setiap mata pelajaran. Jaringan tema ini dapat dikembangkan sesuai dengan
alokasi waktu setiap tema.
Sub Tema 1 Aku
Anak Sehat
Pembelajaran 1
- Menyusun kalender
akademik
Kalender tematik dibuat
setelah matrik Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar yang diikat dalam tema
selesai dibuat. Kalender ini sebagai panduan guru dalam pelaksanaan
pembelajaran tematik yang berfungsi sebagai jadwal pemetaan alokasi waktu
tematik.
- Mempelajari Silabus
Mempelajari
Silabus yang nantinya akan dijabarkannya ke dalam RPP
- Menyusun Rencana
Pelaksaanaan Pembelajaran (RPP)
Berdasarkan Permendiknas
RI no 81 A bahwa RPP disusun dengan komponen sebagai berikut :
1)
Identitas sekolah (nama sekolah, tema, kelas/semester dan
alokasi waktu;
2)
Kompetensi Inti (KI-1, 2, 3 dan 4);
3)
Kompetensi Dasar;
4)
Indikator Kompetensi;
5)
Tujuan Pembelajaran (sesuai indikator);
6)
Materi Pelajaran, yang dikemas dalam satu tema mencakup
esensi materi beberapa mata pelajaran;
7)
Metode Pembelajaran, yang mampu memungkinkan kegiatan belajar
aktif dengan pendekatan Saintifik;
8)
Langkah-langkah pembelajaran yang terdiri dari :
a)
Pendahuluan(merupakan kegiatan awal dalam suatu pertemuan pembelajaran
yangditujukan membangkitkan motivasi dan memfokuskan perhatian peserta didik
agar siapmengikuti proses pembelajaran);
b)
Kegiatan inti(merupakan proses pembelajaran untuk mencapai
tujuan pembelajaranyang dilakukan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan,
menantang, memotivasipeserta didik untuk berpartisifatif aktif serta memberikan
ruang yang cukup bagiprakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat
minat dan perkembanganfisik serta psikologis peserta didik). Kegiatan inti
dilakukan melalui proses eksplorasi,elaborasi, dan konfirmasi. Ketiga proses
tersebut dirancang secara terpadu melaluikegiatan mengamati, menanya, mengolah,
menalar, menyajikan, menyimpulkan, danmembaca;
c)
Kegiatan Penutup(merupakankegiatan untuk mengakhiri aktivitas
pembelajaran yangdilakukan dalam bentuk rangkuman atau kesimpulan, penilaian,
refleksi, umpanbalik, dan tindak lanjut berupa penugasan terstruktur dan atau
kegiatan mandiri tidakterstruktur; dan 10). Penilaian yang dilaksanakan selama
proses dan sesudah pembelajaran
PENDEKATAN INKUIRI
1.
Pengertian Pendekatan
Inkuiri
Menurut
Piaget, inkuiri merupakan pendekatan yang mempersiapkan peserta didik pada
situasi untuk melakukan eksperimen sendiri secara luas agar melihat apa yang
terjadi, ingin melakukan sesuatu, mengajukan pertanyaan-pertanyaan, dan mencari
jawabannya sendiri, serta menghubungkan jawaban yang satu dengan yang lain,
membandingkan apa yang ditemukannya dengan yang ditemukan peserta didik yang
lain. Kuslan dan Stone (Dahar dan Liliasari
1986, dalam Iskandar, 1996/1997:68) mendefinisikan “pendekatan inkuiri sebagai
pengajaran dimana guru dan murid mempelajari peristiwa-peristiwa ilmiah dengan
pendekatan dan jiwa para ilmuan”.
Hinrichsen
juga menambahkan bahwa (1999) inkuiri mengandung dua makna utama yaitu inkuiri
sebagai inti dari usaha ilmiah dan inkuiri sebagai strategi untuk belajar
mengajar IPA, sebagai strategi mengajar IPA inkuiri merupakan metode yang
mengharuskan siswa untuk mengkonstruk sendiri pengetahuannya melalui pertanyaan
mereka tentang suatu hal, kemudian merencanakan dan melakukan investigasi untuk
menjawab pertanyaan tersebut, melakukan analisis dan mengkomunikasikan hasil
penemuan mereka.
Proses-proses
inkuiri adalah menemukan masalah, menyusun hipotesis, merencanakan eksperimen,
melaksanakan eksperimen untuk menguji hipotesis, mensintesis pengetahuan,
mengembangbangkan beberapa sikap yaitu sikap objektif, ingin tahu, terbuka dan
bertanggung jawab. Pendekatan inkuiri merupakan pendekatan penemuan yang
menuntut pengetahuan yang lebih kompleks dibandingkan pendekatan discovery.
Pada pendekatan inkuiri siswa dengan proses mentalnya sendiri dapat menemukan
suatu konsep, sehingga dalam menyusun rancangan percobaan dilakukan atas
kemampuannya sendiri. Pada pendekatan inkuiri, permasalahan dilontarkan oleh
guru, cara pemecahan masalah ditentukan oleh siswa, penemuan kesimpulan juga
dilakukan oleh siswa.
Dalam sebuah
kumpulan definisi inkuiri di inquiry page (2004) menyatakan bahwa inkuiri
merupakan suatu pendekatan pada pembelajaran yang melibatkan suatu proses
penyelidikan yang alami atau material world, yang mendorong siswa untuk
bertanya, membuat penemuan dan menguji penemuan itu melalui penelitian dalam
pencarian suatu pemahaman baru. Inkuiri yang berhubungan dengan pendidikan IPA
harus mencerminkan penyelidikan. Dengan demikian proses belajar mengajar
melalui inkuiri ini selalu melibatkan siswa dalam kegiatan diskusi dan
eksperimen.
Berdasarkan
beberapa definisi di atas, dapat di simpulkan bahwa pendekatan inkuiri sebagai
suatu model pembelajaran yang terpusat pada siswa, yang mana siswa didorong
untuk terlibat langsung dalam melakukan inkuiri, yaitu bertanya, merumuskan
permasalahan, melakukan eksperimen, mengumpulkan dan menganalisis data, menarik
kesimpulan, berdiskusi dan berkomunikasi. Dengan demikian, siswa menjadi lebih
aktif dan guru hanya berusaha membimbing, melatih dan membiasakan siswa untuk
terampil berfikir (minds-on activities) karena mereka mengalami keterlibatan
secara mental dan terampil secara fisik (hands-on activities) seperti terampil
merangkai alat percobaan dan sebagainya. Pelatihan dan pembiasaan siswa untuk
terampil berfikir dan terampil secara fisik tersebut merupakan syarat mutlak
untuk mencapai tujuan pembelajaran yang lebih besar yaitu tercapainya keterampilan
proses ilmiah, sekaligus sikap ilmiah disamping penguasaan konsep, prinsip,
hukum, dan teori.
2.
Tahapan-tahapan Inkuiri
Dalam website
inquiry page UIUC (copyright 1998-2004 inquiry page version 1.35) dinyatakan
bahwa proses inkuiri dalam pelaksanaan pembelajaran dilakukan melalui 5 tahap
seperti disajikan pada gambar 1 berikut :
tahapan
inkuiri terdiri dari 5 tahap yaitu fase bertanya (Ask), fase penyelidikan
(investigate), menghasilkan (create), diskusi (discuss), dan refleksi
(reflect). Setiap langkah dalam proses ini secara alami mendorong munculnya
pertanyaan baru, investigasi, dan peluang untuk “teachable moments”. Sintaks
proses inkuiri disajikan pada tabel 2.1 berikut :
Tahapan Proses Inkuiri
- Ask
Siswa :
- Berkeinginan untuk
menemukan sesuatu. Mulai bertanya tentang apa yang hendak diketahui. (yang
menjadi fokus pada tahap ini adalah munculnya pertanyaan atau masalah).
- Mulai untuk
menggambarkan dan menguraikan apa artinya.
- Investigate
Siswa :
- Apa yang
dipikirkannya itu diwujudkan dalam tindakan.
- Mulai untuk
mengumpulkan informasi, meneliti, mempelajari, bereksperimen, dan
mengobservasi (langkah mengumpulkan informasi menjadi suatu proses
memotivasi diri yang secara keseluruhan dimiliki oleh siswa yang
terlibat).
- Create
Siswa :
- Informasi yang telah
didapat, pada tahap ini digabungkan. Siswa mulai membuat hubungan.
(kemampuan pada tahap ini adalah untuk mensintesis pemahaman yang
merupakan percikan kekreatifan yang membentuk semua pengetahuan baru).
- Melakukan tugas yang
kreatif membentuk pemahaman baru, gagasan, dan teori yang signifikan
diluar pengalaman utamanya.
- Discuss
Siswa :
- Mulai berbagi gagasan
baru mereka dengan orang lain.
- Mulai untuk bertanya
pada yang lain tentang investigasi dan pengalaman mereka sendiri.
(bertukar pikiran, mendiskusikan kesimpulan, dan berbagai pengalaman
merupakan semua contoh tindakan dalam proses ini).
- Reflect
Siswa :
- Menggunakan waktunya
untuk melihat kembali permasalahan awal atau permasalahan baru. Pada tahap
ini memungkinkan untuk kembali pada tahap 1 dan selanjutnya hingga
didapatkan penyelesaian yang lebih berarti.
3.
Langkah-langkah
Pelaksanaan Pembelajaran Inkuiri
- Mengidentifikasi dan
merumuskan masalah, rumusan masalah merupakan arah yang dicapai dalam
pembelajaran. Perumusan masalah harus sesuai dengan materi yang
akan diajarkan dalam pembelajaran IPA.
- Merumuskan Hipotesis
: Dilakukan dengan diskusi dan harus sesuai dengan kemampuan siswa.
- Mengumpulkan,
mengolah dan menganalisis data, siswa tentu harus mencari bukti-buktinya
dengan arahan guru dan sumber-sumber harus relevan.
- Menguji hipotesis :
Data yang sudah dianalisis kemudian disimpulkan dengan mengkaji hipotesis
yaitu benar atau salah. Bila dianggap hipotesisnya kurang tepat, maka
langkah ini dapat digunakan untuk merefisi rumus masalah hipotesis, bila perlu
mengulang langkah ketiga.
- Merumuskan
alternatif-alternatif pemecahan masalah. Apabila rumusan hipotesis sudah
jelas, dan kalau sudah terkumpul, siswa dibimbing untuk merumuskan
alternatif pemecahan masalah.
- Menetapkan pemecahan
masalah tentu saja dengan bimbingan guru.
4.
Jenis-jenis Pendekatan
Inkuiri menurut Sound dan Trowbridge
Sound dan
Trowbridge 1973 (Mulayasa, 2008:109) mengemukakan tiga macam model inkuiri
sebagai berikut :
- Inkuiri terpimpin
(guide inquiry)
Pada inkuiri
terpimpin pelaksanaan penyelidikan dilakukan siswa berdasarkan
petunjuk-petunjuk guru, petunjuk yang diberikan pada umumnya berbentuk
pertanyaan-pertanyaan yang membimbing.
- Inkuiri bebas (free
inquiry)
Pada inkuiri
bebas siswa melakukan penelitian sendiri bagaikan seorang ilmuan. Masalah
dirumuskan sendiri, eksperimen dilakukan sendiri dan kesimpulan konsep
diperoleh sendiri.
- Inkuiri bebas yang
dimodifikasi (modified free inquiry)
Pada inkuiri
ini guru memberikan permasalahan dan kemudian siswa diminta memecahkan
permasalahan tersebut melalui pengamatan, eksplorasi, dan prosedur penelitian.
Dari ketiga model inkuiri
tersebut, model inkuiri yang penulis gunakan adalah inkuiri terpimpin.
Pendekatan inkuiri dapat dilaksanakan apabila dipenuhi syarat-syarat berikut :
(1)
guru harus terampil memilih persoalan yang relevan untuk
diajukan kepada kelas (persoalan bersumber dari bahan pelajaran yang menantang
siswa/problemik) dan sesuai dengan daya nalar siswa;
(2)
guru harus terampil menumbuhkan motivasi belajar siswa dan
menciptakan situasi belajar yang menyenangkan;
(3)
adanya fasilitas dan sumber belajar yang cukup;
(4)
adanya kebebasan siswa untuk berpendapat, berdiskusi;
(5)
partisipasi setiap siswa dalam setiap kegiatan belajar, dan
(6)
tidak banyak campur tangan dan intervensi terhadap kegiatan
siswa.
5.
Prinsip-prinsip Pendekatan
Inkuiri
Dalam
penggunaan pembelajaran inkuiri terdapat beberapa prinsip yang harus
diperhatikan oleh setiap guru, diantaranya :
- Berorientasi pada
Pengembangan Intelektual.
Tujuan utama dari strategi
inkuiri adalah pengembangan kemampuan berpikir. Tidak sebatas penguasaan materi
tetapi sejauh mana siswa beraktivitas mencari dan menemukan sesuatu.
- Prinsip Interaksi.
Guru tidak menempatkan
diri sebagai sumber belajar tetapi sebagai pengatur interaksi agar siswa
mengembangkan kemampuan berpikirnya melalui interaksi mereka.
- Prinsip Bertanya.
Guru berperan sebagai
penanya karena kemampuan siswa untuk menjawab pertanyaan merupakan sebagian
dari proses berpikir.
- Prinsip Belajar untuk
Berpikir.
Belajar bukan sekedar
mengingat sejumlah fakta tetapi proses berpikir (learning how to think), yakni
proses mengembangkan potensi seluruh otak, baik otak kiri maupun otak kanan,
baik otak reptile, otak limbic, maupun otak neokortek.
- Prinsip Keterbukaan.
Tugas guru adalah
menyediakan ruang untuk memberikan kesempatan kepada siswa mengembangkan
hipotesis dan secara terbuka membuktikan kebenaran hipotesis yang
dianjurkannya.
6.
Kelebihan dan Kekurangan
Pendekatan Inkuiri
Berikut ini
adalah beberapa kelebihan pembelajaran yang menggunakan pembelajaran inkuiri :
a.
Bruner (Amin, 1987:133), seorang psiklog dari Harvard
University di Amerika
Serikat menyatakan beberapa keuntungan metode inkuiri sebagai berikut :
1)
Siswa akan memahami konsep-konsep dasar dan ide-ide lebih
baik.
2)
Membantu dalam menggunakan daya ingat dan transfer pada
situasi-situasi proses belajar yang baru.
3)
Mendorong siswa untuk berpikir inisiatif dan merumuskan
hipotesisnya sendiri.
4)
Mendorong siswa untuk berpikir dan bekerja atas inisiatifnya
sendiri.
5)
Memberikan kepuasan yang bersifat intrinsic.
6)
Situasi proses belajar menjadi lebih merangsang.
7)
Pengajaran berubah dari “teacher-centered” menjadi “student
centered”
8)
Dapat membentuk dan mengembangkan konsep diri (self concept)
9)
Tingkat pengharapan bertambah.
10) Dapat meningkatkan bakat
kemampuan individu.
11) Dapat menghindarkan siswa
dari cara-cara belajar tradisional (menghafal)
12) Memberikan waktu bagi
siswa untuk mengasimilasi dan mengakomodasi informasi.
13) Menekankan kepada
pengembangan aspek kognitif, afektif, dan psikomotor secara seimbang, sehingga
pembelajaran lebih bermakna.
14) Memberikan ruang kepada
siswa untuk belajar sesuai dengan gaya belajar mereka.
15) Sesuai dengan perkembangan
psikologi belajar modern yang menganggap belajar adalah proses perubahan
tingkah laku berkat adanya pengalaman.
16) Dapat melayani kebutuhan
siswa yang memiliki kemampuan di atas rata-rata. Artinya, siswa yang memiliki
kemampuan belajar yang bagus tidak akan terhambat oleh siswa yang lemah dalam
belajar.
7.
Keuntungan Pendekatan
Inkuiri
Menurut Amin (dalam
Suryanti, 2009,142) pendekatan inkuri sebagai strategi pembelajaran memiliki
beberapa keuntungan yaitu :
a.
Mendorong siswa berfikir dan bekerja atas inisiatifnya
sendiri.
b.
Menciptakan suasana akademik yang mendukung berlangsungnya
pembelajaran yang berpusat pada siswa.
c.
Membantu siswa mengembangkan konsep diri yang positif.
d.
Meningkatkan penghargaan sehingga siswa mengembangkan ide
untuk menyelesaikan tugas dengan caranya sendiri.
e.
Mengembangkan bakat individual secara optimal.
f.
Menghindarkan siswa dari
cara belajar menghafal.
8.
Kekurangan Pendekatan Inkuiri
Adapun
kekurangan pembelajaran yang menggunakan pendekatan inkuiri, diantaranya :
1.
Sulit mengontrol kegiatan dan keberhasilan siswa.
2.
Sulit dalam merancang pembelajaran oleh karena terbentur
dengan kebiasaan siswa dalam belajar.
3.
Kadang-kadang dalam mengimplementasikannya, memerlukan waktu
yang telah ditentukan.
4.
Selama kriteria keberhasilan belajar ditentukan oleh
kemampuan siswa menguasai materi pelajaran, strategi pembelajaran inkuiri akan
sulit di implementasikan oleh setiap guru, (Sanjaya, 2008:2006).
9.
Kesulitan Pembelajaran
Inkuiri
Sebagai suatu
strategi yang baru, dalam penerapannya Strategi Pembelajaran
Inkuiri (SPI) terdapat
beberapa kesulitan diantaranya :
a
SPI merupakan strategi pembelajaran yang menekankan kepada
proses berpikir yang berstandarkan dua sayap yang sama penting, yaitu proses
belajar dan hasil belajar. Selama ini guru sudah terbiasa dengan pola
pembelajaran konvensional yang lebih menekankan pada penyampaian informasi
sehingga sulit untuk mengubahnya.
b
Sejak lama tertanam dalam budaya belajar siswa bahwa belajar
pada dasarnya adalah menerima materi pelajaran dari guru sehingga bagi mereka
guru adalah sumber belajar yang utama. Dengan demikian sulit untuk mengubah
cara belajar mereka sebagai proses berpikir. Akibatnya mereka akan mengalami
kesulitan manakala diajak memecahkan suatu persoalan, disuruh bertanya dan
menjawab pertanyaan.
c
Berhubungan dengan sistem pendidikan kita yang dianggap tidak
konsisten. Sistem pendidikan menganjurkan agar proses pembelajaran lebih
mengarahkan pada cara belajar siswa aktif, tetapi sistem evaluasi masih
berorientasi pada pengembangan aspek kognitif saja. Dengan demikian guru
sebagai pelaksana di lapangan mengalami kebingungan.
10.
Penerapan Pendekatan
Inkuri dalam Pembelajaran IPA di SD
Pendekatan
inkuri adalah suatu pendekatan yang menggunakan cara bagaimana atau jalan apa
yang harus ditempuh oleh siswa dengan bimbingan guru sampai pada
penemuan-penemuan.
Piaget dalam
Sliman (2007:4) menjelaskan tentang pendekatan inkuiri sebagai pembelajaran
ialah pembelajaran yang mempersiapkan situasi bagi anak untuk melakukan
eksperimen sendiri, dalam arti luas ingin melihat apa yang terjadi, ingin melakukan sesuatu,
ingin menggunakan simbol mencari jawaban
atas pertanyaan sendiri, menghubungkan penemuan satu dengan yang lain,
membandingkan apa yang mereka temukan dengan yang orang lain temukan. Menurut
(Jorolimek dalam Najimudin),inkuiri merupakan pendekatan siswa. Melalui
pendekatan inkuiri guru akan membantu mengembangkan keterampilan dan sikap
percaya diri dalam memecahkan masalah yang dihadapinya. Jika model ini sering
digunakan secara teratur berarti berguna untuk membelajarkan siswa dalam
menemukan masalahnya sendiri dan sekaligus memecahkannya, Pendekatan inkuiri
merupakan proses pembelajaran yang menekankan pada pengembangan kemampuan siswa
untuk memecahkan satu masalah yang dibatasi oleh satu disiplin ilmu. Dalam
menanamkan konsep, misalnya konsep gerak di kelas III SD, pembelajaran ini akan
lebih bermakna jika siswa diberi kesempatan untuk melakukan dan ikut terlibat
secara aktif dalam menemukan konsep gerak benda yang dibimbing guru.
11.
Teori Belajar yang
Mendukung Pendekatan Inkuiri
Menurut Gegne
dalam Dahar, belajar adalah suatu proses dimana suatu organisasi berubah
perilakunya sebagai akibat pengalaman. Teori belajar yang mendukung pendekatan
inkuiri adalah teori perkembangan Piaget, bahwa proses belajar seseorang akan
mengikuti pola dan tahap-tahap perkembangan sesuai dengan umumnya. Perjenjangan
ini bersifat hierarchies, artinya harus dilalui berdasarkan urutan tertentu dan
tidak dapat belajar sesuai yang berada diluar tahap kognitifnya. Teori belajar
Bruner, perkembangan kognitif seseorang terjadi melalui tiga tahap yang
ditentukan oleh caranya melihat lingkungan. Yakni tahap enaktif, dimana
individu melakukan aktivitas dalam usahanya memahami lingkungan. Tahap ikonik
dimana ia melihat dunia melalui gambar-gambar dan visualisasi verbal. Tahap
simbolik dimana ia mempunyai gagasan abstrak yang dipengaruhi bahasa dan
logika.
Teori belajar
bermakna Asuabel, belajar seharusnya merupakan apa yang disebut asimilasi
bermakna. Materi yang dipelajari diasimilasikan dan dihubungkan dengan
pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya. Untuk itu, diperlukan dua
persyaratan yang dikemukakan oleh Relly & Lewis 1983 : materi yang secara
potensial bermakna, dan dipilih serta diatur dan harus sesuai dengan tingkatn
perkembangan siswa. Suatu situasi belajar yang bermakna factor motivasional
mengasimilasi materi baru apabila tidak mempunyai keinginan dan pengetahuan
bagaimana melakukannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar