Selasa, 23 Desember 2014

TEMATIK DAN INKUIRI

PEMBELAJARAN TEMATIK INTEGRATIF

Dalam sejarah pengembangannya di era 70an, pembelajaran tematik integratif /terintegrasi (integrated thematic instruction, ITI) dimaksudkan untuk anak-anak berbakat dan bertalenta (gifted and talented), cerdas, pada  program perluasan belajar, dan yang belajar cepat. Tetapi kini, dalam mengimplementasikan Kurikulum 2013 di SD kelas rendah, pembelajaran tematik integratif (terpadu) ini juga digunakan.

A.    Beberapa Kelebihan Pembelajaran Tematik Integratif
·           Premis utama PTP bahwa peserta didik memerlukan peluang tambahan (additional opportunities) untuk menggunakan talentanya.
·           Pembelajaran tematik terpadu dapat memberikan waktu bersama yang lain untuk secara cepat mengkonseptualisasi dan mensintesis.
·           Pembelajaran tematik terpadu relevan untuk mengakomodasi kualitatif lingkungan belajar.
·           Pembelajaran tematik terpadu  akan dapat menginspirasi peserta didik untuk memperoleh pengalaman belajar.
·           Pembelajaran tematik terpadu memiliki perbedaan kualitatif (qualitatively different) dengan model pembelajaran lain, karena sifatnya memandu peserta didik mencapai kemampuan berpikir tingkat tinggi (higher levels of thinking) atau keterampilan berpikir dengan mengoptimasi kecerdasan ganda (multiple thinking skills), sebuah proses inovatif bagi pengembangan dimensi sikap, keterampilan dan pengetahuan.

B.       Tahap Pembelajaran Tematik Terpadu
Adapun tahap-tahap pembelajaran tematik terpadu adalah sebagai berikut:
Ø  Tahap 1.
Menentukan tema. Dalam pembelajaran tematik terpadu sangat dimungkinkan untuk melakukan kesepakatan bersama antara guru dengan peserta didik untuk menentukan tema yang diminati.
Ø  Tahap 2.
Mengintegrasikan tema dengan kurikulum yang berlaku. Pembelajaran tematik terpadu di kelas rendah SD harus mengedepankan dimensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan sesuai dengan tema yang dimuat dalam Kurikulum yang berlaku (Kurikulum 2013).
Ø  Tahap 3.
Mendesain rencana pembelajaran. Pada tahapan ini tercakup pengorganisasian sumber dan aktivitas ekstrakurikuler dalam rangka mendemonstrasikan kegiatan dalam tema yang dilakukan oleh guru.
Ø  Tahap 4.
Aktivitas kelompok dan diskusi. Dalam tahapan terakhir ini, guru dapat memberikan kesempatan dan peluang bagi siswa untuk ikut berpartisipasi. Dengan demikian, akan tercapai berbagi persepektif dari tema. Hal ini membangun guru dan peserta didik dalam mengeksplorasi subjek (tema).

C.      Model Pembelajaran Tematik Integratif
Salah satu model pembelajaran tematik integratif (terpadu) yang disarankan untuk peserta didik di kelas rendah SD adalah model jaring laba-laba (webbed model). Model terpadu ini berangkat dari pendekatan tematis sebagai acuan dasar bahan dan kegiatan pembelajaran. Tema yang dibuat dapat mengikat kegiatan  pembelajaran, baik dalam mata pelajaran tertentu maupun antarmata pelajaran. Pembelajaran tematik terpadu merupakan pendekatan pembelajaran yang mengintegrasikan berbagai kompetensi dari berbagai mata pelajaran ke dalam berbagai tema. Pengintegrasian tersebut dilakukan dalam dua hal, yaitu integrasi sikap, keterampilan dan pengetahuan dalam proses pembelajaran dan integrasi berbagai konsep dasar yang berkaitan. Tema merajut makna berbagai konsep dasar sehingga peserta didik tidak belajar konsep dasar secara parsial. Dengan demikian pembelajarannya memberikan makna yang utuh kepada peserta didik seperti tercermin pada berbagai tema yang tersedia. Dalam pembelajaran tematik terpadu, tema yang dipilih berkenaan dengan alam dan kehidupan manusia.  Konsep model pembelajaran tematik yang dipelajari di Indonesia adalah konsep pembelajaran terpadu yang dikembangkan oleh Fogarty (1990).

D.      Model pembelajaran tematik yang digunakan pada kurikulum di Indonesia
  1. Model Hubungan/terkait (connected model)
Pada model pembelajaran ini ciri utamanya adalah adanya upaya untuk menghubungkan beberapa materi (bahan kajian) ke dalam satu disiplin ilmu. Sebuah model penyajian yang menghubungkan materi satu dengan materi yang lain. Menghubungkan tugas/keterampilan yang satu dengan tugas/ketrampilan yang lain. Keunggulan model ini, peserta didik memperoleh gambaran yang menyeluruh tentang sebuah konsep, sehingga transfer pengetahuan lebih mudah dilakukan karena konsep pokok dikembangkan secara terus menerus.
  1. Model Jaring laba-laba (webbed model)
Model pembelajaran ini diawali dengan pemilihan tema. Setelah tema ditentukan dilanjutkan dengan pemilihan sub-sub tema dengan memperhatikan keterkaitannya antar mata pelajaran. Aktivitas belajar siswa direncanakan berdasarkan sub-sub tema yang sudah ditentukan. Keuntungan model pembelajaran ini bagi peserta didik adalah diperolehnya pandangan secara utuh tentang kegiatan dari ilmu yang berbeda-beda.
  1. Model Terpadu (integrated model)
Model pembelajaran ini menggunakan pendekatan antar mata pelajaran yang dipadukan. Beberapa mata pelajaran dicari konsep, sikap, dan ketrampilan yang tumpang tindih dipadukan menjadi satu. Kegiatan guru pertama menyeleksi konsep, nilai-nilai dan ketrampilan yang memiliki keterkaitan erat satu sama lain dari berbagai mata pelajaran. Keuntungan model pembelajaran ini bagi peserta didik adalah lebih mudah mengaitkan materi pembelajaran dari berbagai mata pelajaran. Model inilah yang dikembangkan sebagai pembelajaran tematik terpadu di kurikulum 2013.

E.       Hakikat pembelajaran tematik
Pembelajaran tematik mengubah cara belajar dari menunggu diberitahu oleh guru menjadi mencari tahu di bawah bimbingan guru. Pengorganisasian pembelajaran aktif akan menciptakan pembelajaran aktif dan bermakna bagi siswa sehingga siswa memperoleh pemahaman secara utuh dengan menggunakan pendekatan saintifik. Keuntungan pembelajaran tematik bagi peserta didik antara lain: a). Lebih mudah memusatkan perhatiannya pada sebuah tema; b). Dapat mempelajari berbagai kompetensi dasar dalam sebuah tema; c). Pembelajaran lebih berkesan dan mendalam; d). Kompetensi dasar dikaitkan dengan pengalaman peserta didik, sehingga pembelajaran lebih bermakna; e). Lebih bermanfaat karena materi berbasis tema yang jelas; f). Pembelajar an lebih menggairahkan karena peserta didik mampu berkomunikasi dengan kehidupan nyata; dan g). Lebih efisien waktu, karena melalui satu tema dapat dipelajari beberapa mata pelajaran sekaligus.

F.       Prinsip-prinsip pembelajaran tematik
Prinsip dalam penggalian tema: 1). Tema tidak terlalu luas sehingga mudah untuk memadukan mata pelajaran; 2). Bermakna, sehingga bisa digunakan sebagai bekal bagi siswa untuk belajar selanjutnya; 3). Sesuai dengan tingkat perkembangan siswa; 4). Mampu menunjukkan sebagian besar minat siswa; 5). Mempertimbangkan peristiwa otentik (riil); 6). Sesuai dengan kurikulum dan harapan masyarakat; 7). Mempertimbang kan ketersediaan sumber belajar. Sedangkan prinsip dalam pelaksanaan pembelajaran tematik adalah : 1). Guru tidak bersikap otoriter dan berperan sebagai single actor yang mendominasi proses pembelajaran; 2).Pemberian tanggungjawab terhadap individu dan kelompok harus jelas dan mempertimbangkan kerja sama kelompok; 3). Guru bersikap akomodatif terhadap ide-ide yang muncul saat proses pembelajaran yang di luar perencanaan; 4). Memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan evaluasi diri disamping penilaian lain. Penilaian yang digunakan adalah penilaian otentik yang meliputi lima domain yaitu: konsep, proses, aplikasi, kreativitas, dan sikap.

G.      Langkah-langkah penggunaan pendekatan saintifik dalam pembelajaran tematik
  1. Invitasi/apersepsi
Pada tahap ini guru melakukan brainstrorming dan menghasilkan kemungkinan topik untuk penyelidikan. Topik dapat bersifat umum atau khusus, tetapi harus mampu menimbulkan minat siswa dan memberikan wilayah yang cukup untuk penyelidikan.
  1. Eksplorasi
Pada tahap ini siswa dibawah bimbingan guru mengidentifikasi topik penyelidikan. Pengumpulan data dan informasi selengkap-lengkapnya tentang materi dapat dilakukan dengan bertanya (wawancara), mengamati, membaca, mengidentifikasi, serta menganalisis (menalar) dari sumber-sumber langsung (tokoh, obyek yang diamati) atau sumber tidak langsung misalnya buku, koran, atau sumber informasi publik yang lain.
  1. Mengusulkan penjelasan/solusi
Pada tahap ini seluruh informasi, temuan, sintesa yang telah dikembang kan dalam proses penyelidikan dibahas dengan teman secara berpasang an / dalam kelompok kecil. Saling mengkomunikasikan hasil temuan, menguji hipotesis kemudian melaporkan / menyajikannya di depan kelas untuk menggambarkan temuan setelah pembahasan.
  1. Mengambil tindakan
Berdasarkan temuan yang dilaporkan, siswa menindaklanjuti dengan menyusun simpulan serta penerapan dari temuan-temuannya. Untuk mengungkap pengetahuan dan penguasaan siswa terhadap materi dapat dilakukan melalui evaluasi. Penilaian pembelajaran tematik menggunakan 5 (lima) domain, yaitu 1) Konsep; 2) Proses; 3) Aplikasi; 4) Kreativitas dan 5) Sikap. Penilaian otentik sesuai diterapkan dalam penilaian pembelajaran tematik integrative.

H.      Langkah-langkah pengelolaan pembelajaran tematik terpadu.
Langkah-langkah mengelola pembelajaran tematik integrative diawali dari menginventarisir tema dan dipilih dari tema yang paling sederhana, dekat dengan lingkungan, sesuai dengan usia dan perkembangan siswa. Setelah penetapan tema dibuatlah matrik yang menggambarkan hubungan antar mata pelajaran, kompetensi dasar dan indicator yang disatukan dalam sebuah tema. Kalender tematik dibuat setelah matrik, kalender tematik berisi informasi tentang agenda (jadwal) pembelajaran tematik. Setelah itu mempelajari silabus dan menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran sekaligus penilaiannya.

I.         Langkah-langkah perencanaan pembelajaran tematik
  1. Menetapkan mata pelajaran
Semua mata pelajaran yang akan diajarkan diinventarisir. Mata pelajaran tersebut dipetakan atas kompetensi inti dan kompetensi dasar.
  1. Menetapkan KD dan indicator
Setelah melakukan penetapan mata pelajaran dan memetakan KI dan KD maka guru perlu untuk menterjemahkan kompetensi dasar (KD) ke dalam indikator. Indikator merupakan alat ukur yang akan digunakan oleh guru dalam teknis pembelajaran.
  1. Menginventarisir tema
Beberapa mata pelajaran, kompetensi inti, kompetensi dasar, dan indicator akan diikat dengan tema. Tema merupakan media pemersatu agar penyajian pembelajaran bisa terintegrasi. Tema sebaiknya tidak terlalu luas tetapi juga jangan terlalu sempit. Tema yang terlalu luas bisa dijabarkan menjadi sub-sub tema atau anak tema yang lebih spesifik. Sub tema tersebut kemudian dijabarkan dalam materi pembelajaran seperti contoh dalam skema berikut:
  1. Pemetaan
Pemetaan mata pelajaran, kompetensi inti, kompetensi dasar, dan indikator ke dalam tema merupakan dasar penyusunan matrik. Pemetaan bisa dilakukan dengan menggunakan format berikut:
  1. Menyusun matrik
Pada tahap ini dilakukan pemetaan keterhubungan kompetensi dasar dari beberapa mata pelajaran yang bisa disatukan dalam sebuah tema dalam bentuk matriks. Dengan jaringan tema tersebut akan terlihat kaitan antara tema, kompetensi dasar dan indikator dari setiap mata pelajaran. Jaringan tema ini dapat dikembangkan sesuai dengan alokasi waktu setiap tema.
Sub Tema 1 Aku Anak Sehat
Pembelajaran 1

  1. Menyusun kalender akademik
Kalender tematik dibuat setelah matrik Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar yang diikat dalam tema selesai dibuat. Kalender ini sebagai panduan guru dalam pelaksanaan pembelajaran tematik yang berfungsi sebagai jadwal pemetaan alokasi waktu tematik.
  1. Mempelajari Silabus
Mempelajari Silabus yang nantinya akan dijabarkannya ke dalam RPP
  1. Menyusun Rencana Pelaksaanaan Pembelajaran (RPP)
Berdasarkan Permendiknas RI no 81 A bahwa RPP disusun dengan komponen sebagai berikut :
1)      Identitas sekolah (nama sekolah, tema, kelas/semester dan alokasi waktu;
2)      Kompetensi Inti (KI-1, 2, 3 dan 4);
3)      Kompetensi Dasar;
4)      Indikator Kompetensi;
5)      Tujuan Pembelajaran (sesuai indikator);
6)      Materi Pelajaran, yang dikemas dalam satu tema mencakup esensi materi beberapa mata pelajaran;
7)      Metode Pembelajaran, yang mampu memungkinkan kegiatan belajar aktif dengan pendekatan Saintifik;
8)      Langkah-langkah pembelajaran yang terdiri dari :
a)      Pendahuluan(merupakan kegiatan awal dalam suatu pertemuan pembelajaran yangditujukan membangkitkan motivasi dan memfokuskan perhatian peserta didik agar siapmengikuti proses pembelajaran);
b)      Kegiatan inti(merupakan proses pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaranyang dilakukan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasipeserta didik untuk berpartisifatif aktif serta memberikan ruang yang cukup bagiprakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat minat dan perkembanganfisik serta psikologis peserta didik). Kegiatan inti dilakukan melalui proses eksplorasi,elaborasi, dan konfirmasi. Ketiga proses tersebut dirancang secara terpadu melaluikegiatan mengamati, menanya, mengolah, menalar, menyajikan, menyimpulkan, danmembaca;
c)      Kegiatan Penutup(merupakankegiatan untuk mengakhiri aktivitas pembelajaran yangdilakukan dalam bentuk rangkuman atau kesimpulan, penilaian, refleksi, umpanbalik, dan tindak lanjut berupa penugasan terstruktur dan atau kegiatan mandiri tidakterstruktur; dan 10). Penilaian yang dilaksanakan selama proses dan sesudah pembelajaran














PENDEKATAN INKUIRI
 
1.        Pengertian Pendekatan Inkuiri
Menurut Piaget, inkuiri merupakan pendekatan yang mempersiapkan peserta didik pada situasi untuk melakukan eksperimen sendiri secara luas agar melihat apa yang terjadi, ingin melakukan sesuatu, mengajukan pertanyaan-pertanyaan, dan mencari jawabannya sendiri, serta menghubungkan jawaban yang satu dengan yang lain, membandingkan apa yang ditemukannya dengan yang ditemukan peserta didik yang lain.  Kuslan dan Stone (Dahar dan Liliasari 1986, dalam Iskandar, 1996/1997:68) mendefinisikan “pendekatan inkuiri sebagai pengajaran dimana guru dan murid mempelajari peristiwa-peristiwa ilmiah dengan pendekatan dan jiwa para ilmuan”.
Hinrichsen juga menambahkan bahwa (1999) inkuiri mengandung dua makna utama yaitu inkuiri sebagai inti dari usaha ilmiah dan inkuiri sebagai strategi untuk belajar mengajar IPA, sebagai strategi mengajar IPA inkuiri merupakan metode yang mengharuskan siswa untuk mengkonstruk sendiri pengetahuannya melalui pertanyaan mereka tentang suatu hal, kemudian merencanakan dan melakukan investigasi untuk menjawab pertanyaan tersebut, melakukan analisis dan mengkomunikasikan hasil penemuan mereka.
Proses-proses inkuiri adalah menemukan masalah, menyusun hipotesis, merencanakan eksperimen, melaksanakan eksperimen untuk menguji hipotesis, mensintesis pengetahuan, mengembangbangkan beberapa sikap yaitu sikap objektif, ingin tahu, terbuka dan bertanggung jawab. Pendekatan inkuiri merupakan pendekatan penemuan yang menuntut pengetahuan yang lebih kompleks dibandingkan pendekatan discovery. Pada pendekatan inkuiri siswa dengan proses mentalnya sendiri dapat menemukan suatu konsep, sehingga dalam menyusun rancangan percobaan dilakukan atas kemampuannya sendiri. Pada pendekatan inkuiri, permasalahan dilontarkan oleh guru, cara pemecahan masalah ditentukan oleh siswa, penemuan kesimpulan juga dilakukan oleh siswa.
Dalam sebuah kumpulan definisi inkuiri di inquiry page (2004) menyatakan bahwa inkuiri merupakan suatu pendekatan pada pembelajaran yang melibatkan suatu proses penyelidikan yang alami atau material world, yang mendorong siswa untuk bertanya, membuat penemuan dan menguji penemuan itu melalui penelitian dalam pencarian suatu pemahaman baru. Inkuiri yang berhubungan dengan pendidikan IPA harus mencerminkan penyelidikan. Dengan demikian proses belajar mengajar melalui inkuiri ini selalu melibatkan siswa dalam kegiatan diskusi dan eksperimen.
Berdasarkan beberapa definisi di atas, dapat di simpulkan bahwa pendekatan inkuiri sebagai suatu model pembelajaran yang terpusat pada siswa, yang mana siswa didorong untuk terlibat langsung dalam melakukan inkuiri, yaitu bertanya, merumuskan permasalahan, melakukan eksperimen, mengumpulkan dan menganalisis data, menarik kesimpulan, berdiskusi dan berkomunikasi. Dengan demikian, siswa menjadi lebih aktif dan guru hanya berusaha membimbing, melatih dan membiasakan siswa untuk terampil berfikir (minds-on activities) karena mereka mengalami keterlibatan secara mental dan terampil secara fisik (hands-on activities) seperti terampil merangkai alat percobaan dan sebagainya. Pelatihan dan pembiasaan siswa untuk terampil berfikir dan terampil secara fisik tersebut merupakan syarat mutlak untuk mencapai tujuan pembelajaran yang lebih besar yaitu tercapainya keterampilan proses ilmiah, sekaligus sikap ilmiah disamping penguasaan konsep, prinsip, hukum, dan teori.

2.        Tahapan-tahapan Inkuiri
Dalam website inquiry page UIUC (copyright 1998-2004 inquiry page version 1.35) dinyatakan bahwa proses inkuiri dalam pelaksanaan pembelajaran dilakukan melalui 5 tahap seperti disajikan pada gambar 1 berikut :
tahapan inkuiri terdiri dari 5 tahap yaitu fase bertanya (Ask), fase penyelidikan (investigate), menghasilkan (create), diskusi (discuss), dan refleksi (reflect). Setiap langkah dalam proses ini secara alami mendorong munculnya pertanyaan baru, investigasi, dan peluang untuk “teachable moments”. Sintaks proses inkuiri disajikan pada tabel 2.1 berikut :
Tahapan Proses Inkuiri
  1. Ask
Siswa :
  • Berkeinginan untuk menemukan sesuatu. Mulai bertanya tentang apa yang hendak diketahui. (yang menjadi fokus pada tahap ini adalah munculnya pertanyaan atau masalah).
  • Mulai untuk menggambarkan dan menguraikan apa artinya.
  1. Investigate
Siswa :
  • Apa yang dipikirkannya itu diwujudkan dalam tindakan.
  • Mulai untuk mengumpulkan informasi, meneliti, mempelajari, bereksperimen, dan mengobservasi (langkah mengumpulkan informasi menjadi suatu proses memotivasi diri yang secara keseluruhan dimiliki oleh siswa yang terlibat).
  1. Create
Siswa :
  • Informasi yang telah didapat, pada tahap ini digabungkan. Siswa mulai membuat hubungan. (kemampuan pada tahap ini adalah untuk mensintesis pemahaman yang merupakan percikan kekreatifan yang membentuk semua pengetahuan baru).
  • Melakukan tugas yang kreatif membentuk pemahaman baru, gagasan, dan teori yang signifikan diluar pengalaman utamanya.
  1. Discuss
Siswa :
  • Mulai berbagi gagasan baru mereka dengan orang lain.
  • Mulai untuk bertanya pada yang lain tentang investigasi dan pengalaman mereka sendiri. (bertukar pikiran, mendiskusikan kesimpulan, dan berbagai pengalaman merupakan semua contoh tindakan dalam proses ini).
  1. Reflect
Siswa :
  • Menggunakan waktunya untuk melihat kembali permasalahan awal atau permasalahan baru. Pada tahap ini memungkinkan untuk kembali pada tahap 1 dan selanjutnya hingga didapatkan penyelesaian yang lebih berarti.

3.        Langkah-langkah Pelaksanaan Pembelajaran Inkuiri
  1. Mengidentifikasi dan merumuskan masalah, rumusan masalah merupakan arah yang dicapai dalam pembelajaran. Perumusan masalah harus sesuai dengan materi yang akan diajarkan dalam pembelajaran IPA.
  2. Merumuskan Hipotesis : Dilakukan dengan diskusi dan harus sesuai dengan kemampuan siswa.
  3. Mengumpulkan, mengolah dan menganalisis data, siswa tentu harus mencari bukti-buktinya dengan arahan guru dan sumber-sumber harus relevan.
  4. Menguji hipotesis : Data yang sudah dianalisis kemudian disimpulkan dengan mengkaji hipotesis yaitu benar atau salah. Bila dianggap hipotesisnya kurang tepat, maka langkah ini dapat digunakan untuk merefisi rumus masalah hipotesis, bila perlu mengulang langkah ketiga.
  5. Merumuskan alternatif-alternatif pemecahan masalah. Apabila rumusan hipotesis sudah jelas, dan kalau sudah terkumpul, siswa dibimbing untuk merumuskan alternatif pemecahan masalah.
  6. Menetapkan pemecahan masalah tentu saja dengan bimbingan guru.
4.        Jenis-jenis Pendekatan Inkuiri menurut Sound dan Trowbridge
Sound dan Trowbridge 1973 (Mulayasa, 2008:109) mengemukakan tiga macam model inkuiri sebagai berikut :
  1. Inkuiri terpimpin (guide inquiry)
Pada inkuiri terpimpin pelaksanaan penyelidikan dilakukan siswa berdasarkan petunjuk-petunjuk guru, petunjuk yang diberikan pada umumnya berbentuk pertanyaan-pertanyaan yang membimbing.
  1. Inkuiri bebas (free inquiry)
Pada inkuiri bebas siswa melakukan penelitian sendiri bagaikan seorang ilmuan. Masalah dirumuskan sendiri, eksperimen dilakukan sendiri dan kesimpulan konsep diperoleh sendiri.
  1. Inkuiri bebas yang dimodifikasi (modified free inquiry)
Pada inkuiri ini guru memberikan permasalahan dan kemudian siswa diminta memecahkan permasalahan tersebut melalui pengamatan, eksplorasi, dan prosedur penelitian.
Dari ketiga model inkuiri tersebut, model inkuiri yang penulis gunakan adalah inkuiri terpimpin. Pendekatan inkuiri dapat dilaksanakan apabila dipenuhi syarat-syarat berikut :
(1)   guru harus terampil memilih persoalan yang relevan untuk diajukan kepada kelas (persoalan bersumber dari bahan pelajaran yang menantang siswa/problemik) dan sesuai dengan daya nalar siswa;
(2)   guru harus terampil menumbuhkan motivasi belajar siswa dan menciptakan situasi belajar yang menyenangkan;
(3)   adanya fasilitas dan sumber belajar yang cukup;
(4)   adanya kebebasan siswa untuk berpendapat, berdiskusi;
(5)   partisipasi setiap siswa dalam setiap kegiatan belajar, dan
(6)   tidak banyak campur tangan dan intervensi terhadap kegiatan siswa.
5.        Prinsip-prinsip Pendekatan Inkuiri
Dalam penggunaan pembelajaran inkuiri terdapat beberapa prinsip yang harus diperhatikan oleh setiap guru, diantaranya :
  1. Berorientasi pada Pengembangan Intelektual.
Tujuan utama dari strategi inkuiri adalah pengembangan kemampuan berpikir. Tidak sebatas penguasaan materi tetapi sejauh mana siswa beraktivitas mencari dan menemukan sesuatu.
  1. Prinsip Interaksi.
Guru tidak menempatkan diri sebagai sumber belajar tetapi sebagai pengatur interaksi agar siswa mengembangkan kemampuan berpikirnya melalui interaksi mereka.
  1. Prinsip Bertanya.
Guru berperan sebagai penanya karena kemampuan siswa untuk menjawab pertanyaan merupakan sebagian dari proses berpikir.
  1. Prinsip Belajar untuk Berpikir.
Belajar bukan sekedar mengingat sejumlah fakta tetapi proses berpikir (learning how to think), yakni proses mengembangkan potensi seluruh otak, baik otak kiri maupun otak kanan, baik otak reptile, otak limbic, maupun otak neokortek.
  1. Prinsip Keterbukaan.
Tugas guru adalah menyediakan ruang untuk memberikan kesempatan kepada siswa mengembangkan hipotesis dan secara terbuka membuktikan kebenaran hipotesis yang dianjurkannya.
6.        Kelebihan dan Kekurangan Pendekatan Inkuiri
Berikut ini adalah beberapa kelebihan pembelajaran yang menggunakan pembelajaran inkuiri :
a.              Bruner (Amin, 1987:133), seorang psiklog dari Harvard University di Amerika Serikat menyatakan beberapa keuntungan metode inkuiri sebagai berikut :
1)      Siswa akan memahami konsep-konsep dasar dan ide-ide lebih baik.
2)      Membantu dalam menggunakan daya ingat dan transfer pada situasi-situasi proses belajar yang baru.
3)      Mendorong siswa untuk berpikir inisiatif dan merumuskan hipotesisnya sendiri.
4)      Mendorong siswa untuk berpikir dan bekerja atas inisiatifnya sendiri.
5)      Memberikan kepuasan yang bersifat intrinsic.
6)      Situasi proses belajar menjadi lebih merangsang.
7)      Pengajaran berubah dari “teacher-centered” menjadi “student centered”
8)      Dapat membentuk dan mengembangkan konsep diri (self concept)
9)      Tingkat pengharapan bertambah.
10)  Dapat meningkatkan bakat kemampuan individu.
11)  Dapat menghindarkan siswa dari cara-cara belajar tradisional (menghafal)
12)  Memberikan waktu bagi siswa untuk mengasimilasi dan mengakomodasi informasi.
13)  Menekankan kepada pengembangan aspek kognitif, afektif, dan psikomotor secara seimbang, sehingga pembelajaran lebih bermakna.
14)  Memberikan ruang kepada siswa untuk belajar sesuai dengan gaya belajar mereka.
15)  Sesuai dengan perkembangan psikologi belajar modern yang menganggap belajar adalah proses perubahan tingkah laku berkat adanya pengalaman.
16)  Dapat melayani kebutuhan siswa yang memiliki kemampuan di atas rata-rata. Artinya, siswa yang memiliki kemampuan belajar yang bagus tidak akan terhambat oleh siswa yang lemah dalam belajar.
7.        Keuntungan Pendekatan Inkuiri
Menurut Amin (dalam Suryanti, 2009,142) pendekatan inkuri sebagai strategi pembelajaran memiliki beberapa keuntungan yaitu :
a.              Mendorong siswa berfikir dan bekerja atas inisiatifnya sendiri.
b.              Menciptakan suasana akademik yang mendukung berlangsungnya pembelajaran yang berpusat pada siswa.
c.              Membantu siswa mengembangkan konsep diri yang positif.
d.             Meningkatkan penghargaan sehingga siswa mengembangkan ide untuk menyelesaikan tugas dengan caranya sendiri.
e.              Mengembangkan bakat individual secara optimal.
f.                    Menghindarkan siswa dari cara belajar menghafal.
8.        Kekurangan Pendekatan Inkuiri
Adapun kekurangan pembelajaran yang menggunakan pendekatan inkuiri, diantaranya :
1.                       Sulit mengontrol kegiatan dan keberhasilan siswa.
2.             Sulit dalam merancang pembelajaran oleh karena terbentur dengan kebiasaan siswa dalam belajar.
3.             Kadang-kadang dalam mengimplementasikannya, memerlukan waktu yang telah ditentukan.
4.             Selama kriteria keberhasilan belajar ditentukan oleh kemampuan siswa menguasai materi pelajaran, strategi pembelajaran inkuiri akan sulit di implementasikan oleh setiap guru, (Sanjaya, 2008:2006).
9.        Kesulitan Pembelajaran Inkuiri
Sebagai suatu strategi yang baru, dalam penerapannya Strategi Pembelajaran
Inkuiri (SPI) terdapat beberapa kesulitan diantaranya :
a         SPI merupakan strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses berpikir yang berstandarkan dua sayap yang sama penting, yaitu proses belajar dan hasil belajar. Selama ini guru sudah terbiasa dengan pola pembelajaran konvensional yang lebih menekankan pada penyampaian informasi sehingga sulit untuk mengubahnya.
b        Sejak lama tertanam dalam budaya belajar siswa bahwa belajar pada dasarnya adalah menerima materi pelajaran dari guru sehingga bagi mereka guru adalah sumber belajar yang utama. Dengan demikian sulit untuk mengubah cara belajar mereka sebagai proses berpikir. Akibatnya mereka akan mengalami kesulitan manakala diajak memecahkan suatu persoalan, disuruh bertanya dan menjawab pertanyaan.
c         Berhubungan dengan sistem pendidikan kita yang dianggap tidak konsisten. Sistem pendidikan menganjurkan agar proses pembelajaran lebih mengarahkan pada cara belajar siswa aktif, tetapi sistem evaluasi masih berorientasi pada pengembangan aspek kognitif saja. Dengan demikian guru sebagai pelaksana di lapangan mengalami kebingungan.
10.    Penerapan Pendekatan Inkuri dalam Pembelajaran IPA di SD
Pendekatan inkuri adalah suatu pendekatan yang menggunakan cara bagaimana atau jalan apa yang harus ditempuh oleh siswa dengan bimbingan guru sampai pada penemuan-penemuan.
Piaget dalam Sliman (2007:4) menjelaskan tentang pendekatan inkuiri sebagai pembelajaran ialah pembelajaran yang mempersiapkan situasi bagi anak untuk melakukan eksperimen sendiri, dalam arti luas ingin melihat  apa yang terjadi, ingin melakukan sesuatu, ingin menggunakan simbol  mencari jawaban atas pertanyaan sendiri, menghubungkan penemuan satu dengan yang lain, membandingkan apa yang mereka temukan dengan yang orang lain temukan. Menurut (Jorolimek dalam Najimudin),inkuiri merupakan pendekatan siswa. Melalui pendekatan inkuiri guru akan membantu mengembangkan keterampilan dan sikap percaya diri dalam memecahkan masalah yang dihadapinya. Jika model ini sering digunakan secara teratur berarti berguna untuk membelajarkan siswa dalam menemukan masalahnya sendiri dan sekaligus memecahkannya, Pendekatan inkuiri merupakan proses pembelajaran yang menekankan pada pengembangan kemampuan siswa untuk memecahkan satu masalah yang dibatasi oleh satu disiplin ilmu. Dalam menanamkan konsep, misalnya konsep gerak di kelas III SD, pembelajaran ini akan lebih bermakna jika siswa diberi kesempatan untuk melakukan dan ikut terlibat secara aktif dalam menemukan konsep gerak benda yang dibimbing guru.
11.    Teori Belajar yang Mendukung Pendekatan Inkuiri
Menurut Gegne dalam Dahar, belajar adalah suatu proses dimana suatu organisasi berubah perilakunya sebagai akibat pengalaman. Teori belajar yang mendukung pendekatan inkuiri adalah teori perkembangan Piaget, bahwa proses belajar seseorang akan mengikuti pola dan tahap-tahap perkembangan sesuai dengan umumnya. Perjenjangan ini bersifat hierarchies, artinya harus dilalui berdasarkan urutan tertentu dan tidak dapat belajar sesuai yang berada diluar tahap kognitifnya. Teori belajar Bruner, perkembangan kognitif seseorang terjadi melalui tiga tahap yang ditentukan oleh caranya melihat lingkungan. Yakni tahap enaktif, dimana individu melakukan aktivitas dalam usahanya memahami lingkungan. Tahap ikonik dimana ia melihat dunia melalui gambar-gambar dan visualisasi verbal. Tahap simbolik dimana ia mempunyai gagasan abstrak yang dipengaruhi bahasa dan logika.
Teori belajar bermakna Asuabel, belajar seharusnya merupakan apa yang disebut asimilasi bermakna. Materi yang dipelajari diasimilasikan dan dihubungkan dengan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya. Untuk itu, diperlukan dua persyaratan yang dikemukakan oleh Relly & Lewis 1983 : materi yang secara potensial bermakna, dan dipilih serta diatur dan harus sesuai dengan tingkatn perkembangan siswa. Suatu situasi belajar yang bermakna factor motivasional mengasimilasi materi baru apabila tidak mempunyai keinginan dan pengetahuan bagaimana melakukannya.

Selasa, 16 Desember 2014

MEDIA PEMBELAJARAN



A.    Klasifikasi Media Pembelajaran
Dalam suatu proses belajar mengajar kehadiran media mempunyai arti yang cukup penting. Karena dalam kegiatan tersebut ketidakjelasan bahan yang akan disampaikan dapat di bantu dengan menghadirkan media sebagai perantara. Kerumitan bahan yang akan disampaikan kepada anak didik dapat disederhanakan dengan bantuan media.
Media dapat mewakili apa yang kurang mampu guru ucapkan melalui kata-kata atau kalimat tertentu. Bahkan keabstrakan bahan dapat di konkretkan dengan kehadiran media. Media pembelajaran banyak sekali jenis dan macamnya. Mulai dari yang paling sederhana dan murah sampai media yang paling canggih dan mahal harganya. Ada media yang dapat dibuat oleh guru sendiri dan ada media yang diproduksi pabrik. Ada media yang sudah tersedia di lingkungan yang langsung dapat kita manfaatkan, ada pula me­dia yang secara khusus sengaja dirancang untuk keperluan pembelajaran. Meskipun media banyak ragamnya, namun kenyataannya tidak banyak jenis media yang biasa digunakan oleh guru di sekolah.
(Dalam Sadiman, dkk, 2011:19) Dalam pengertian teknologi pendidikan, media atau bahan sebagai sumber belajar merupakan komponen dari sistem intruksional di samping pesan, orang, teknik latar, dan peralatan. Media atau bahan adalah perangkat lunak (software) berisi pesan atau informasi pendidikan yang biasanya di sajikan dengan mempergunakan peralatan. Sedangkan peralatan atau perangkat keras (hardware) sendiri merupakan sarana untuk dapat menampilkan pesan yang terkandung pada media tersebut. Dengan masuknya berbagai pengaruh ke dalam khazanah pendidikan seperti ilmu cetak-mencetak, tingkah-laku (behaviorisme), komunikasi, dan laju perkembangan teknologi elektronik, media dalam perkembangannya tampil dalam berbagai jenis dan format (modul cetak, film, televisi, film bingkai, film rangkai, program radio, komputer, dan lain-lain). Masing-masing dengan ciri dan kemampuannya sendiri. Dari sinilah timbul usaha-usaha penataannya, yaitu pengelompokan atau klasifikasi menurut kesamaan ciri atau karakteristiknya. Para ahli berbeda dalam setiap pengelompokannya, diantaranya:
Kerucut Pengalaman Menurut Edgar Dale (via Hujair, 2011:43) Edgare Dale, menggambarkan tingkat pengalaman dan alat-alat yang diperlukan untuk memperoleh pengalaman. Menurut Edgare Dale, pengalaman berlangsung dari tingkat yang konkret naik menuju ke tingkat yang lebih abstrak. Pada tingkat yang konkret, seseorang dapat belajar dari kenyataan atau pengalaman langsung yang bertujuan dalam kehidupan kita. Kemudian meningkat ke tingkat yang lebih atas menuju ke puncak kerucut, dalam tingkat yang abstrak bentuk symbol-simbol. Pembagian tingkatan-tingkatan itu semata-mata untuk membantu melihat pengalaman belajar. Edgar Dale berkeyakinan bahwa simbol dan gagasan yang abstrak dapat lebih mudah dipahami dan diserap manakala diberikan dalam bentuk pengalaman konkrit. Kerucut pengalaman merupakan awal untuk memberikan alasan tentang kaitan teori belajar dengan komunikasi audiovisual.
a.       Pengalaman langsung dan bertujuan (Direct Purposeful Experiences)
Dasar dari pengalaman kerucut Dale ini adalah merupakan penggambaran realitas secara langsung sebagai pengalaman yang kita temui pertama kalinya. Ibarat ini seperti fondasi dari kerucut pengalaman ini, dimana dalam hal ini masih sangat konkrit. Dalam tahap ini pembelajaran dilakukan dengan cara memegang, merasakan atau mencium secara langsung materi pelajaran. Maksudnya seperti anak Taman Kanak-Kanak yang masih kecil dalam melakukan praktik menyiram bunga. Disini anak belajar dengan memegang secara langsung itu seperti apa, kemudian menyiramkannya kepada bunga.
b.      Pengalaman Tiruan (Contrived Experiences)
Tingkat kedua dari kerucut ini sudah mulai mengurangi tingkat ke-konkritannya. Dalam tahap ini si pelajar tidak hanya belajar dengan memegang, mencium atau merasakan tetapi sudah mulai aktif dalam berfikir. Contohnya seperti seorang pelajar yang diinstruksikan membuat bangunan atau gedung. Disini pelajar tidak membuat gedung sebenarnya melainkan gedung dalam artian suatu model atau miniatur dari gedung yang sebenarnya.
c.       Dramatisasi (Dramatized Experiences)
Dengan drama, pelajar dapat menjadi merasakan langsung materi yang dipelajari. Jika kita bisa membagi dua bagian ini, maka bagian akan terbagi menjadi partisipasi dan observasi. Partisipasi merupakan bentuk aktif secara langsung dalam suatu drama, sedangkan observasi merupakan pengamatan, seperti menonton atau mengamati drama tersebut.
d.      Demonstrasi (Demonstrations)
Demonstrasi disini merupakan gambaran dari suatu penjelasan yang merupakan sebuah fakta atau proses. Seorang demonstrator menunjukkan bagaimana sesuatu itu bisa terjadi. Misalnya seorang guru Biologi yang mendemonstrasikan bagaimana melihat objek yang berukuran kecil dengan menggunakan mikroskop. Dalam proses pembelajaran, demonstrasi juga memerlukan alat-alat, bahasa yang sederhana, persiapan yang baik, waktu yang cukup, tempat yang memadai, dan minat dari pemirsa.
e.       Karya Wisata (Field Trip)
Karya wisata, pengalaman semacam ini diperoleh dengan mengajak kelas ke objek di luar kelas dengan maksud memperkaya dan memperluas pengalaman pembelajar. Kegiatan yang dilakukan pembelajar dalam karyawisata adalah :
(a) pembelajar aktif melakukan observasi,
(b)tanya jawab,
(c) mencatat, dan
(d) membuat laporan.
f.       Pameran
Pameran, yang bertujuan untuk mempertunjukkan hasil pekerjaan pembelajar, perkembangan dan kemajuan sekolah kepada warga sekolah dan masyarakat pada umumnya. Televisi
g.      Televisi
Televisi yaitu suatu media untuk menyampaikan pesan pendidikan dan pengajaran kepada anak-anak dan masyarakat. Program televisi pendidikan dinilai selain maenarik minat yang lebih besar dan juga memberikan informasi yang autentik.
h.      Gambar hidup (film)
Gambar hidup (film), yaitu rangkaian gambar yang dapat diproyeksikan ke layar dengan kecepatan tertentu. Rangkaian suatu gambar dan suara yang menampilkan cerita dan gambar yang mudah dipahami.
i.        Radio
Radio, yaitu dengan siaran radio dapat disampaikan pengajaran secara efektif, dan akan menambah pengalaman, pengetahuan dan menimbulkan motivasi belajar. Programnya berupa cerita, ceramah, wawancara, sandiwara, dan sebagainya.
j.        Gambar
Gambar, yaitu segala sesuatu yang diwujudkan secara visual dalam bentuk dua dimensi dan sebagai curahan perasaan dan pikiran. Lukisan, dapat berbentuk ilustrasi, karikatur, kartun, poster, gambar seri, poster, slide, dan filmstip.
k.      Simbol Visual
Simbol visual, yaitu gambar yang secara keseluruhan dari sesuatu yang dijelaskan ke dalam suatu bentuk yang dapat divisualisasikan, misalnya sketsa, bagan, grafik, pster gambar, komik, kartun gambar, diagram dan peta gambar.
l.        Lambang Kata
Lambang kata, yaitu lambang kata dapat dijumpai dalam buku dan bahan-bahan bacaan lainnya, seperti buku, majalah, koran, dan lain-lain.

Menurut Wilbur Schramm
Media digolongkan menjadi media rumit, mahal, dan media sederhana. Schramm juga mengelompokkan media menurut kemampuan daya liputan, yaitu:
a.       Liputan luas dan serentak, misalnya televisi, radio, dan facsimile.
b.      Liputan terbatas ruangan, misalnya film, video, slide, poster audio tape.
c.       Media untuk belajar individual, misalnya buku, modul, program belajar dengan komputer dan telepon.

Menurut Gagne
Media diklasifikasikan menjadi tujuh kelompok yaitu benda untuk didemonstrasikan, komunikasi lisan, media cetak, gambar diam, gambar bergerak, film bersuara, dan mesin belajar. Ketujuh kelompok media pembelajaran tersebut dikaitkan dengan kemampuannya memenuhi fungsi menurut hierarki belajar yang dikembangkan, yaitu pelontar stimulus belajar, penarik minat belajar, contoh perilaku belajar, memberi kondisi eksternal, menuntun cara berpikir, memasukkan alih ilmu, menilai presentasi, dan pemberi umpan balik.

Menurut Allen
Terdapat Sembilan kelompok media, yaitu visual diam, film, televisi, obyek tiga dimensi, rekaman, pelajaran berprogram, demonstrasi, buku teks cetak, dan sajian lisan. Disamping mengklasifikasikan, Allen juga mengaitkan antara jenis media pembelajaran dan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Allen melihat bahwa, media tertentu memiliki kelebihan untuk tujuan belajar tertentu tetapi lemah untuk tujuan belajar yang lain. Allen mengungkapkan enam tujuan belajar, antara lain: info faktual, pengenalan visual, prinsip dan konsep, prosedur, keterampilan, dan sikap. Setiap jenis media tersebut memiliki perbedaan kemampuan untuk mencapai tujuan belajar.

Menurut Gerlach dan Ely
Media dikelompokkan berdasarkan ciri-ciri fisiknya atas kedelapan kelompok yaitu:
a.       Benda Sebenarnya (Realita) Benda sebenarnya (realita) yang termasuk kategori media ini adalah orang, kejadian, obyek atau benda tertentu. Semua benda yang terdapat di alam dan dapat disaksikan keadaan sebenarnya, diklasifikasikan ke dalam kelompok ini.
b.      Presentasi Verbal Presentasi verbal yang termasuk kategori media ini antara lain adalah media cetak, kata-kata yang diproyeksikan melalui film bingkai (slides), transparansi, cetakan di papan tulis, majalah, dan papan tempel. Media ini ditampilkan dalam bentuk ungkapan kata atau kalimat yang memiliki makna sebagai media.
c.       Presentasi Grafis Presentasi grafis segaja dibuat dalam rangka untuk mengkomunikasikan ide, sikap, dan keterampilan. Media ini ditampilkan dalam bentuk lukisan, gambar, tabel, atau sejenisnya untuk menyampaikan pesan sehingga mudah diterima.
d.      Potret Diam Potret diam yaitu potret dari berbagai macam obyek atau peristiwa yang mungkin dipresentasikan melalui buku, film rangkai, film bingkai, majalah/surat kabar. Obyek atau peristiwa ini diambil dari suatu tempat yang kemudia disajikan dalam bentuk gambar diam. Penerima pesan hanya memperoleh gambaran atau kesan terhadap suatu obyek atau peristiwa.
e.       Film Film (gambar gerak) yaitu film atau video dari pemotretan/perekaman benda atau kejadian sebenarnya, maupun film dari pemotretan gambar (animasi).
f.       Rekaman Suara Rekaman suara merupakan hasil rekaman suara saja, baik menggunakan bahasa verbal maupun efek suara musik.
g.      Program Pada umumnya dikenal dengan istilah pengajaran berprogram yaitu sekuen dari informasi, baik verbal, visual, atau audio yang dengan sengaja dirancang untuk merangsang adanya respons dari pebelajar. Disamping itu, terdapat pula yang dipersiapkan dan diprogramkan melalui mesin komputer.
h.      Simulasi Simulasi merupakan peniruan situasi yang dengan sengaja diadakan untuk mendekati/menyerupai kejadian atau keadaan sebenarnya. Beberapa contoh yang terkait, misalnya simulasi bagi calon pengendara mobil, dimana situasi pada layar dibuat sedemikian rupa sehingga menyerupai kondisi nyata di lapangan.

Menurut Ibrahim
Media dikelompokkan berdasarkan ukuran serta kompleks tidaknya alat dan perlengkapannya atas lima kelompok, yaitu media tanpa proyeksi dua dimensi, media tanpa proyeksi tiga dimensi, media audio, media proyeksi televisi, video dan komputer.

Menurut Bretz dan Briggs
Mengemukakan bahwa klasifikasi media digolongkan menjadi 4 kelompok yaitu media audio, media visual, media audo visual, dan media serbaneka.
a.       Media Audio
Media audio berfungsi untuk menyalurkan pesan audio dari sumber pesan ke penerima pesan. Media audio berkaitan erat dengan indra pendengaran. Contoh media yang dapat dikelompokkan dalam media audio diantaranya: radio, tape recorder, telepon, laboratorium bahasa, dan lain-lain.
b.      Media Visual
Media visual yaitu media yang mengandalkan indra penglihat. Media visual dibedakan menjadi dua yaitu
(1) media visual diam
(2) media visual gerak
a)      Media visual diam contohnya foto, ilustrasi, flashcard,gambar pilihan dan potongan gambar, film bingkai, film rangkai,OHP, grafik, bagan, diagram, poster, peta, dan lain-lain.
b)      Media visual gerak contohnya gambar-gambar proyeksi bergerak seperti film bisu dan sebagainya.
c.       Media audio visual
Media audio visual merupakan media yang mampu menampilkan suara dan gambar. Ditinjau dari karakteristiknya media audio visual dibedakan menjadi 2 yaitu
(1) madia audio visual diam, dan
(2) media audio visual gerak.
a)      Media audio visual diam diantaranya film rangkai bersuara, halaman bersuara, buku bersuara.
b)      Media audio visual gerak diantaranya TV, gambar bersuara, dan lain-lain.
d.      Media Serbaneka
Media serbaneka merupakan suatu media yang disesuaikan dengan potensi di suatu daerah, di sekitar sekolah atau di lokasi lain atau di masyarakat yang dapat dimanfaatkan sebagai media pengajaran. Contoh media serbaneka diantaranya: Papan tulis, media tiga dimensi, realita, dan sumber belajar pada masyarakat.
a)      Papan (board) yang termasuk dalam media ini diantaranya: papan tulis, papan buletin, papan flanel, papan magnetik, papan listrik, dan papan paku.
b)      Media tiga dimensi diantaranya: model, mock up, dan diorama.
c)      Realita adalah benda-benda nyata seperti apa adanya atau aslinya. Contoh pemanfaatan realia misalnya guru membawa kelinci, burung, ikan atau dengan mengajak siswanya langsung ke kebun sekolah atau ke peternakan sekolah.
d)     Sumber belajar pada masyarakat diantaranya dengan karya wisata dan berkemah.

B.     Karakteristik Media Pembelajaran Berdasarkan Klasifikasinya
Dengan menganalisis media melalui bentuk penyajian dan cara penyajiannya, kita mendapatkan suatu format klasifikasi yang meliputi enam kelompok media penyaji, yaitu:
1.      Media Grafis
Pada prinsipnya semua jenis media dalam kelompok ini merupakan penyampaian pesan lewat simbol-simbol visual dan melibatkan rangsangan indera penglihatan. Karakteristik yang dimiliki adalah: bersifat kongkret, dapat mengatasi batasan ruang dan waktu, dapat memperjelas suatu masalah dalam bidang masalah apa saja dan pada tingkat usia berapa saja, murah harganya dan mudah mendapatkan serta menggunakannya, terkadang memiliki ciri abstrak (pada jenis media diagram), merupakan ringkasan visual suatu proses, grafis biasanya digunakan untuk menarik perhatian, memperjelas sajian ide, dan mengilustrasikan fakta-fakta sehingga menarik dan diingat orang.
Yang termasuk media grafis antara lain:
a.       Grafik
Grafik adalah gambar sederhana yang menggunakan titik-titik, garis atau gambar. Untuk melengkapinya sering sekali simbol-simbol verbal digunakan pula di situ. Fungsi grafik adalah untuk menggambarkan data kuantitatif secara teliti, menerangkan perkembangan atau perbandingan sesuatu objek atau peristiwa yang saling berhubungan secara singkat dan jelas. Ada beberapa macam grafik yang kita gunakan di antaranya adalah grafik garis (line graphs), grafik batang (pargraphs), grafik lingkaran (circle atau pie graphs) dan grafik gambar (pictorial graphs).
b.      Diagram
Suatu gambar sederhana yang menggunakan garis-garis dan simbol-simbol, yang menggambarkan struktur dari objek secara garis besar. Diagram menunjukkan hubungan yang ada antar komponennya atau sifat-sifat proses yang ada disitu. Diagram pada umumnya berisi petunjuk-petunjuk. Diagram menyederhanakan hal yang kompleks sehingga dapat memperjelas penyajian pesan.
c.       Bagan
Seperti halnya media grafis yang lain, bagan atau chart termasuk media visual. Fungsinya yang pokok adalah menyajikan ide-ide atau konsep-konsep yang sulit bila hanya disampaikan secara tertulis atau lisan secara visual. Bagan juga mampu memberikan ringkasan butir-butir penting dari suatu presentasi.
Pesan yang akan disampaikan biasanya berupa ringkasan visual suatu proses, perkembangan atau hubungan-hubungan penting.    
Didalam bagan sering kali kita jumpai jenis media grafis yang lain, seperti gambar, diagram, kartun atau lambang-lambang verbal.
Sebagai media yang baik, bagan haruslah:
1. Dapat dimengerti anak
2. Sederhana dan lugas, tidak rumit atau berbelit-belit
3. Diganti pada waktu-waktu tertentu agar selain tetap termasa (up to date) juga tidak kehilangan daya tarik.
d.      Sketsa
Sketsa adalah gambar yang sederhana, atau draft kasar yang melukiskan bagian-bagian pokoknya tanpa detail. Karena setiap orang yang normal dapat belajar menggambar, setiap guru yang baik haruslah dapat menuangkan ide-idenya kedalam bentuk sketsa. Sketsa, selain dapat menarik perhatian murid, menghindari verbalisme dan dapat memperjelas penyampaian pesan, harganya pun tidak perlu dipersoalkan sebab media ini dibuat langsung oleh guru.
Seorang guru bisa saja menerangkan proses perkembangbiakkan kupu-kupu secara lisan/verbal. Jika ingin lebih jelas tentu saja sebaiknya menunjukkan benda-benda sebenarnya seperti kupu-kupu, telur, ulat, kepompong, serta proses itu sendiri. Jika itu tidak mungkin, guru bisa menunjukkan gambar/fotonya. Tetapi itu memerlukan waktu dan biaya.
Sketsa dapat dibuat secara cepat sementara guru menerangkan dapat pula dipakai untuk tujuan tersebut.
e.       Poster
Poster adalah gambar pada selembar kertas yang berukuran besar, merupakan alat untuk menyampaikan berbagai pesan.
Poster tidak saja penting untuk menyampaikan kesan-kesan tertentu tetapi dia mampu pula untuk mempengaruhi dan memotivasi tingkah laku orang yang melihatnya.
f.       Papan Flanel
Papan flannel adalah media grafis yang efektif sekali untuk menyajikan pesan-pesan tertentu kepada sasaran tertentu pula. Papan berlapis kain flanel ini dapat dilipat sehingga praktis. Gambar-gambar yang akan disajikan dapat dipasang dan dicopot dengan mudah sehingga dapat dipakai berkali-kali. Selain gambar, di kelas-kelas permulaan sekolah dasar atau taman kanak-kanak, papan flanel ini dipakai pula untuk menempelkan huruf dan angka-angka
g.      Papan Buletin (Bulletin Board)
Berbeda dengan papan flanel, papan buletin ini tidak dilapisi kain flanel tetapi langsung ditempel gambar-gambar atau tulisan-tulisan. Fungsinya selain menerangkan sesuatu, papan buletin dimaksudkan untuk memberitahukan kejadian dalam waktu tertentu.
Berbagai jenis media grafis yang diuraikan di depan (gambar, poster, sketsa, diagram, chart) dapat dipakai sebagai bahan pembuatan papan buletin. Selain itu, papan bulletin dapat dibuat dari pesan-pesan verbal tertulis seperti karangan-karangan (anak-anak) berita, feature, dan sebagainya.
Kelebihan Media Grafis
1)      Dapat mempermudah dan mempercepat pemahaman siswa terhadap pesan yang disajikan.
2)      Dapat dilengkapi dengan warna-warna sehingga lebih menarik perhatian siswa.
3)      Pembuatannya mudah dan harganya murah.

Kelemahan Media Grafis
1)      Membutuhkan keterampilan khusus dalam pembuatannya, terutama untuk grafis yang lebih kompleks.
2)      Penyajian pesan hanya berupa unsur visual.
2.      Media Bahan Cetak
Media bahan cetak adalah media visual yang pembuatannya melalui proses pencetakan/printing atau offset. Media bahan cetak ini menyajikan pesannya melalui huruf dan gambar-gambar yang diilustrasikan untuk lebih memperjelas pesan atau informasi yang disajikan. Jenis media bahan cetak ini diantaranya adalah: buku teks, modul, bahan pengajaran terprogram.
Kelebihan Media Bahan Cetak
1)      Dapat menyajikan pesan atau informasi dalam jumlah yang banyak.
2)      Pesan atau informasi dapat dipelajari oleh siswa sesuai dengan kebutuhan, minat, dan kecepatan masing-masing.
3)      Dapat dipelajari kapan dan dimana saja karena mudah dibawa.
4)      Akan lebih menarik apabila dilengkapi dengan gambar dan warna.
5)      Perbaikan/revisi mudah dilakukan.

Kelemahan Media Bahan Cetak
1)      Proses pembuatannya membutuhkan waktu yang cukup lama.
2)      Bahan cetak yang tebal mungkin dapat membosankan dan mematikan minat siswa untuk membacanya.
3)      Apabila jilid dan kertasnya jelek, bahan cetak akan mudah rusak dan sobek.
3.      Media Proyeksi Diam
Beberapa jenis media yang termasuk kelompok ini memerlukan alat bantu (misal proyektor) dalam penyajiannya. Karakteristik umum media ini adalah pesan yang sama dapat disebarkan ke seluruh siswa secara serentak, penyajiannya berada dalam kontrol guru, cara penyimpanannya mudah (praktis), dapat mengatasi keterbatasan ruang, waktu, dan indera, menyajikan obyek-obyek secara diam (pada media dengan penampilan visual saja), terkadang dalam penyajiannya memerlukan ruangan gelap, lebih mahal dari kelompok media grafis, sesuai untuk mengajarkan keterampilan tertentu, sesuai untuk belajar secara berkelompok atau individual, praktis dipergunakan untuk semua ukuran ruangan kelas, mampu menyajikan teori dan praktek secara terpadu, menggunakan teknik-teknik warna, animasi, gerak lambat untuk menampilkan obyek/kejadian tertentu (terutama pada jenis media film), dan media film lebih realistik, dapat diulang-ulang, dihentikan, dan lain sebagainya sesuai dengan kebutuhan. Yang termasuk ke dalam jemis media proyeksi daim adalah sebagai berikut:
a.       Media OHP Dan OHT
OHT (Overhead Transparency) adalah media visual yang diproyeksikan melalui alat proyeksi yang disebut OHP (Overhead Projector). OHT terbuat dari bahan transparan yang biasanya berukuran 8,5 X 11 inci. Ada 3 jenis bahan yang dapat digunakan sebagai OHT, yaitu :
1)      Write on film (plastik transparansi), yaitu jenis transparansi yang dapat ditulisi atau digambari secara langsung dengan menggunakan spidol.
2)      PPC transparency film (PPC= Plain Paper Copier), yaitu jenis transparansi yang dapat diberi tulisan atau gambar dengan menggunakan mesin photocopy.
3)      Infrared transparency film, yaitu jenis transparansi yang dapat diberi tulisan atau gambar dengan menggunakan mesin thermofax. OHP (Overhead Projector) adalah media yang digunakan untuk memproyeksikan program-program transparansi pada sebuah layar.

Kelebihan Media OHT/OHP
1)      Dapat digunakan untuk menyajikan pesan di semua ukuran ruangan kelas.
2)      Menarik, karena memungkinkan penyajian yang variatif dan disertai dengan warna-warna yang menarik.
3)      Tatap muka dengan siswa selalu terjaga dan memungkinkan siswa untuk mencatat hal-hal yang penting.
4)      Tidak memerlukan operator secara khusus dan tidak pula memerlukan penggelapan ruangan.
5)      Dapat menyajikan pesan yang banyak dalam waktu yang relatif singkat.
6)      Program OHT dapat digunakan berulang-ulang.
Kelemahan Media OHT/OHP
1)      Memerlukan perencanaan yang matang dalam pembuatan dan penyajiannya.
2)      OHT dan OHP merupakan hal yang tak dapat dipisahkan, karena sebuah gambar dalam kertas biasa tidak bisa diproyeksikan melalui OHP.
3)      Urutan OHT mudah kacau, karena merupakan urutan yang lepas.

b.      Film
Film disebut juga gambar hidup (motion pictures), yaitu serangkaian gambar diam (still pictures) yang meluncur secara cepat dan diproyeksikan sehingga menimbulkan kesan hidup dan bergerak. Film merupakan media yang sangat besar kemampuannya dalam membantu proses belajar mengajar. Sebagai suatu media, film memiliki keunggulan-keunggulan antara lain:
1)      Film merupakan suatu denominator belajar yang umum. Baik anak yang cerdas maupun yang lamban akan memperoleh sesuatu dari film yang sama. Keterampilan membaca atau penguasaan bahasa yang kurang, bisa diatasi dengan menggunakan film.
2)      Film sangat bagus untuk menerangkan suatu proses. Gerakan-gerakan lambat dan pengulangan-pengulangan akan memperjelas uraian dan ilustrasi.
3)      Film dapat menampilkan kembali masa lalu dan menyajikan kembali kejadian-kejadian sejarah yang lampau.
4)      Film dapat menyajikan baik teori maupun praktik dari yang bersifat umum ke khusus atau sebaliknya.
5)      Film dapat mendatangkan seorang ahli dan mendengarkan suaranya di kelas.
6)      Film memikat perhatian anak.
7)      Film lebih realistis, dapat diulang-ulang, dihentikan dan sebagainya, sesuai dengan kebutuhan. Hal-hal yang abstrak menjadi jelas.
8)      Film bisa mengatasi daya keterbatasan daya indera kita (pengelihatan).
9)      Film dapat merangasang atau memotivasi kegiatan anak-anak.
Kelemahan Media Film
1)      Harga produksinya cukup mahal.
2)      Pembuatannya memerlukan banyak waktu dan tenaga.
3)      Memerlukan operator khusus untuk mengoperasikannya.
4)      Memerlukan penggelapan ruangan.

4.      Media Audio
Hakekat dari jenis-jenis media dalam kelompok ini adalah berupa pesan yang disampaikan atau dituangkan ke dalam simbol-simbol auditif (verbal atau non-verbal), yang melibatkan rangsangan indera pendengaran. Secara umum media audio memiliki karakteristik atau ciri sebagai berikut: mampu mengatasi keterbatasan ruang dan waktu (mudah dipindahkan dan jangkauannya luas), pesan/program dapat direkam dan diputar kembali sesukanya, dapat mengembangkan daya imajinasi dan merangsang partisipasi aktif pendengarnya, dapat mengatasi masalah kekurangan guru, sifat komunikasinya hanya satu arah, sangat sesuai untuk pengajaran musik dan bahasa, dan pesan/informasi atau program terikat dengan jadwal siaran (pada jenis media radio).
a.         Media Radio
Radio adalah media audio ruang penyampaian pesannya dilakukan melalui pancaran gelombang elektromagnetik dari suatu pemancar.
Kelebihan Media Radio
1)      Memiliki variasi program yang cukup banyak.
2)      Sifatnya mobile, karena mudah dipindah-pindah tempat dan gelombangnya.
3)      Baik untuk mengembangkan imajinasi siswa.
4)      Dapat lebih memusatkan perhatian siswa terhadap kata, kalimat atau musik, sehingga sangat cocok digunakan untuk pengajaran bahasa.
5)      Jangkauannya sangat luas, sehingga dapat didengar oleh massa yang banyak.
6)      Harganya relatif murah.
Kelemahan Media Radio
1)      Sifat komunikasinya hanya satu arah (one way communication).
2)      Jika siarannya monoton akan lebih cepat membosankan siswa untuk mendengarkannya.
3)      Program siarannya selintas, sehingga tidak bisa diulang-ulang dan disesuaikan dengan kemampuan belajar siswa secara individual.
b.        Media Alat Perekam Pita Magnetik
Alat perekam pita magnetik atau tape recorder adalah media yang menyajikan pesannya melalui proses perekaman kaset audio. Alat perekam pita magnetik (magnetic tape recording) atau disebut tape recorder merupakan salah satu media pendidikan yang tidak dapat diabaikan untuk menyampaikan informasi, karena mudah menggunakannya. Ada dua macam rekaman dalam alat perekam pita magnetik yaitu sistem full track recording dan double track recording.
Kelebihan Media Alat Perekam Pita Magnetik
1)      Pita rekaman dapat diputar berulang-ulang sesuai dengan kebutuhan siswa.
2)      Rekaman dapat dihapus dan digunakan kembali.
3)      Mengembangkan daya imajinasi siswa.
4)      Sangat efektif untuk pembelajaran bahasa.
5)      Penggandaan programnya sangat mudah.
Kelemahan Media Alat Perekam Pita Magnetik
1)      Daya jangkauannya terbatas.
2)      Biaya penggandaan alatnya relatif lebih mahal dibanding radio.
c.       Laboraturium Bahasa
Laboraturium bahasa adalah alat untuk melatih siswa mendengar dan berbicara dalam bahasa asing dengan cara menyajikan materi pelajaran yang disiapkan sebelumnya. Media yang dipakai adalah alat perekam.
Dalam laboraturium bahasa, murid duduk sendiri-sendiri di dalam sebuah kotak bilik akustik dan kotak suara. Siswa mendengar suara guru yang duduk di ruang kontrol lewat headphone. Pada saat dia menirukan ucapan guru dia juga mendengar suaranya sendiri lewat headphonenya, sehingga dia bisa membandingkan ucapannya dengan guru. Dengan demikian dia bisa segera memperbaiki kesalahan-kesalahan yang dibuatnya.

5.      Media Audio Visual
Media audio visual adalah media modern yang sesuai dengan perkembangan zaman (kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi), meliputi media yang dapat dilihat dan dapat di dengar. Media audio visual adalah media yang mempunyai unsur suara dan gambar. Berikut jenis-jenis media audio visual:
a         Media audio visual diam adalah media yang penyampaian pesannya dapat diterima oleh indera pendengaran dan indera pengelihatan, akan tetapi gambar yang dihasilkannya adalah gambar diam atau sedikit memiliki unsur gerak. Seperti media slide suara (audio slide), film bingkai suara (sound slide), film rangkai suara, dan cetak suara. Kelebihan dan kelemahan media ini tidak jauh berbeda dengan media proyeksi diam. Perbedaannya adalah adanya aspek suara pada media audio visual diam.
b        Audio visual gerak, yaitu media yang dapat menampilkan unsur-unsur dan gambar yang bergerak.
1)      Televisi
Televisi adalah media yang menyampaikan pesan-pesan pembelajaran secara audio-visual dengan disertai unsure gerak. Dilihat dari sudut jumlah penerima pesannya, televisi tergolong ke dalam media massa. Sebagai media pendidikan, televisi mempunyai kelebihan-kelebihan sebagai berikut:
a)      TV dapat menerima, menggunakan dan mengubah atau membatasi semua bentuk media yang lain, menyesuaikannya dengan tujuan-tujuan yang akan dicapai.
b)      TV merupakan medium yang menarik, modern dan selalu siap diterima oleh anak-anak karena mereka mengenalnya sebagai bagian dari kehidupan luar sekolah mereka.
c)      TV mempunyai realitas dari film, tapi juga mempunyai kelebihan yang lain yaitu immediacy (Objek yang baru saja ditangkap kamera dapat dipertontonkan).
d)     Hampir setiap mata pelajaran bisa di-TV-kan.
e)      TV dapat meningkatkan pengetahuan dan kemampuan guru dalam hal mengajar.
Beberapa kelemahan/keterbatasan televisi:
a)      Sifat komunikasinya hanya satu arah.
b)      Jika akan dimanfaatkan di kelas, jadwal siaran dan jadwal pelajaran di sekolah sering kali sulit disesuaikan.
c)      Program di luar kontrol guru dan
d)     Besarnya gambar di layar relatif kecil dibanding dengan film, sehingga jumlah siswa yang dapat memanfaatkannya terbatas.
2)      Video
Video, sebagai media audio-visual yang menampilkan gerak, semakin lama semakin populer dalam masyarakat kita. Pesan yang disajikan bisa bersifat fakta (kejadian/peristiwa penting, berita) maupun fiktif (misalnya cerita), bisa bersifat informative edukatif maupun instruksional. Sebagian besar tugas film dapat digantikan oleh video. Tapi tidak berarti bahwa video akan menggantikan kedudukan film. Masing-masing mempunyai kelebihan dan keterbatasan. Kelebihan video antara lain :
a)      Dapat menarik perhatian untuk periode-periode yang singkat dari rangsangan luar lainnya.
b)      Dengan alat perekam pita pita video sejumlah besar penonton dapat memperoleh informasi dari ahli-ahli/spesialis.
c)      Menghemat waktu dan rekaman dapat diputar berulang-ulang.
d)     Ruangan tidak perlu digelapkan waktu menyajikannya.
Kekurangan video antara lain:
a)      Perhatian penonton sulit dikuasai, partisipasi mereka jarang dipraktikkan.
b)      Sifat komunikasinya bersifat satu arah dan harus diimbangi dengan pencarian bentuk umpan balik yang lain.
c)      Kurang mampu menampilkan detail dari objek yang disajikan secara sempurna.
d)     Memerlukan peralatan yang mahal dan kompleks.

6.      Multimedia
Multimedia merupakan suatu sistem penyempaian dengan menggunakan berbagai jenis bahan belajar yang membentuk suatu unit atau paket. Contohnya suatu modul belajar yang terdiri atas bahan cetak, bahan audio, dan bahan audio visual. Kelebihan Multi Media :
1)      Siswa memiliki pengalaman yang beragam dari segala media.
2)      Dapat menghilngkan kebosanan siswa karena media yang digunakan lebih bervariasi.
3)      Sangat baik untuk kegiatan belajar mandiri.
Kelemahan Multi Media
1)      Biayanya cukup mahal.
2)      Memerlukan perencanaan yang matang dan tenaga yang profesional.




Daftar pustaka

Musfiqon.2012. Media Pembelajaran. Jakarta: Prestasi Pustaka.
http://saderi-cilayang.blogspot.com/